Menag Ajak Santri Teladani Ulama Terdahulu

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 16 September 2025 - 06:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HALLOMAKASSAR.COM –Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak para santri untuk meneladani ulama terdahulu yang tidak hanya melahirkan karya besar, tetapi juga membangun peradaban. Ia menilai pesantren memiliki potensi besar untuk tampil sebagai episentrum peradaban Islam dunia, jika semangat keilmuan para pendahulu mampu dihidupkan kembali.

“Tradisi pesantren kita kaya dengan warisan intelektual. Dari sinilah lahir ulama, pemikir, sekaligus pemimpin umat. Pesantren harus tampil sebagai pusat lahirnya generasi yang mampu berperan dalam percaturan global,” ujar Nasaruddin dalam keterangannya, Senin (15/9).

Dalam paparannya, Menag menyinggung ulama klasik sebagai teladan penting bagi santri. Ia mencontohkan Imam Al-Ghazali yang menulis karya monumental Ihya Ulumuddin untuk menghidupkan kembali spiritualitas umat, serta Ibn Rushd yang menjembatani ilmu agama dengan filsafat hingga menjadi rujukan dunia Barat.

“Mereka adalah contoh bagaimana seorang ulama tidak hanya menguasai teks agama, tetapi juga ilmu pengetahuan luas yang membangun peradaban,” jelasnya.

Ia juga mengisahkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang menekankan kejujuran dalam menuntut ilmu.

“Syekh Abdul Qadir pernah dinasehati oleh ibunya: jangan bohong, maka selamat. Pesan inilah yang relevan bagi santri zaman sekarang, bahwa ilmu tanpa kejujuran akan kehilangan berkah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan bahwa pendidikan pesantren harus dilandasi kesungguhan, doa, dan keikhlasan.

“Ilmu yang berkah lahir dari hati yang jujur, tekun, dan doa yang tulus. Inilah ciri khas pendidikan pesantren yang harus terus dirawat,” terangnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, kejayaan peradaban Islam di Baghdad menjadi bukti bagaimana ulama, ilmuwan, dan filosof bersatu membangun peradaban dunia.

“Tidak boleh ada pemisahan ilmu. Santri harus menguasai kitab, sekaligus terbuka pada sains dan teknologi modern. Dengan begitu, pesantren akan melahirkan generasi alim, cerdas, dan siap memimpin,” tegasnya.***

Berita Terkait

Suroso Isnandar Dirut Baru PLN, Pengamat: Sudah Tepat dan Tuan di Rumah Sendiri
Rochmad Widodo Jadi Pemimpin Redaksi Serambiislam.com dan Jaziranews.com, Ini Fokus SapuLangit Media
DKPP Janji Transparan Tangani Aduan Dugaan Pelanggaran Etik Penyelenggara soal Ijazah Wapres Gibran
Media Saatini.com Bidik 100 Portal Media pada 2026, Buka Peluang Kemitraan Digital bagi UMKM dan Tokoh Publik
Rocky Gerung Ungkap Pesan Presiden Usai Dilantik sebagai Anggota Wantimpres
Presiden Prabowo Subianto Lakukan Reshuffle, Ini Daftarnya
Korlantas Polri Luncurkan Kios SIM, Perpanjang SIM Secara Mandiri
Pemerintah Buka Peluang Petugas Damkar – Satpol PP Diangkat Jadi Pegawai

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:30 WIB

Suroso Isnandar Dirut Baru PLN, Pengamat: Sudah Tepat dan Tuan di Rumah Sendiri

Minggu, 18 Oktober 2026 - 23:23 WIB

Rochmad Widodo Jadi Pemimpin Redaksi Serambiislam.com dan Jaziranews.com, Ini Fokus SapuLangit Media

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:12 WIB

DKPP Janji Transparan Tangani Aduan Dugaan Pelanggaran Etik Penyelenggara soal Ijazah Wapres Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:46 WIB

Media Saatini.com Bidik 100 Portal Media pada 2026, Buka Peluang Kemitraan Digital bagi UMKM dan Tokoh Publik

Jumat, 2 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Rocky Gerung Ungkap Pesan Presiden Usai Dilantik sebagai Anggota Wantimpres

Berita Terbaru

Opini

IHSG dan Harga Sebuah Kepercayaan

Minggu, 25 Okt 2026 - 06:37 WIB

Info Makassar

Wali Kota Makassar Apresiasi Kontribusi Kalla Group 74 Tahun

Minggu, 25 Okt 2026 - 06:30 WIB