Ketika Keramaian Tak Lagi Meninggalkan Sampah

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 25 Mei 2026 - 07:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mashud Azikin, Pemerhati Persampahan Kota Makassar

Ada satu hal yang sering tidak ikut difoto ketika sebuah acara besar selesai digelar: sampah.

Orang-orang biasanya mengabadikan panggung megah, kerumunan yang padat, lampu yang gemerlap, atau wajah-wajah yang tertawa penuh nostalgia. Tetapi beberapa jam setelah acara usai, ketika musik berhenti dan peserta pulang, sering kali tersisa pemandangan yang jauh lebih jujur—gelas plastik berserakan, kotak makanan menggunung, dan aroma sisa konsumsi yang mulai bercampur dengan udara malam.

Kita hidup di zaman ketika manusia sangat pandai menciptakan keramaian, tetapi belum sepenuhnya dewasa dalam mengelola jejak yang ditinggalkan oleh keramaian itu sendiri.

Padahal, di kota-kota besar seperti Makassar, persoalan sampah telah lama menjadi cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap hari truk-truk pengangkut hilir mudik menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa membawa ribuan ton residu peradaban kota: plastik sekali pakai, sisa makanan, dan berbagai benda yang sebelumnya dibeli hanya untuk dipakai beberapa menit.

Ironisnya, sebagian besar sampah itu lahir dari sesuatu yang sebenarnya bernama “perayaan”.
Karena itu, hari ini ukuran keberhasilan sebuah event publik tidak lagi cukup dihitung dari banyaknya peserta atau meriahnya panggung hiburan. Ukuran baru sedang lahir secara perlahan: seberapa bertanggung jawab sebuah acara terhadap lingkungan di sekitarnya.

Dan ukuran baru itu menemukan bentuk nyatanya dalam pelaksanaan Tudang Sipulung Nasional (TSN) 2 Alumni SMA Negeri 2 Makassar yang berlangsung di Benteng Fort Rotterdam, 22–24 Mei 2026.

Benteng Fort Rotterdam bukan ruang biasa.
Ia adalah fragmen sejarah yang masih berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk Makassar modern. Dinding-dinding tuanya menyimpan jejak panjang perjalanan Sulawesi Selatan—tentang perdagangan, kolonialisme, kebudayaan, hingga identitas kota yang terus berubah.

Karena itu, menghadirkan ribuan orang ke kawasan cagar budaya selalu mengandung dua kemungkinan sekaligus: merawat sejarah atau justru melukai sejarah.

Di banyak tempat, event besar sering meninggalkan warisan yang memalukan. Setelah acara selesai, ruang publik berubah menjadi hamparan sampah. Rumput tertutup plastik. Saluran air tersumbat sisa makanan. Dan petugas kebersihan menjadi pihak yang diam-diam menanggung konsekuensi dari euforia banyak orang.

Tetapi di Fort Rotterdam, suasananya terasa sedikit berbeda.
Di beberapa sudut area kegiatan, berdiri pos-pos pemilahan sampah yang disiapkan bersama Yayasan Butta Porea Indonesia. Pengunjung tidak lagi sekadar “membuang”, melainkan mulai diarahkan untuk memilah. Ada tempat untuk botol plastik, ada ruang untuk sampah organik, dan ada edukasi sederhana yang bekerja tanpa harus banyak ceramah.

Kelihatannya sederhana. Tetapi sesungguhnya di situlah peradaban diuji.
Sebab persoalan lingkungan sering kali bukan soal teknologi besar, melainkan soal kebiasaan kecil yang dilakukan secara kolektif.

Kita terlalu lama memandang sampah sebagai benda mati yang selesai urusannya begitu dibuang. Padahal, sampah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat—ke sungai, ke laut, ke TPA, atau kembali ke tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik.

Maka ketika sebuah acara mulai menghadirkan sistem pemilahan, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar kebersihan lokasi. Yang sedang dibangun adalah kesadaran baru: bahwa setiap benda yang kita gunakan memiliki konsekuensi ekologis.

Di era media sosial, citra sebuah event bisa runtuh hanya oleh satu foto tumpukan sampah yang viral. Tetapi persoalannya sebenarnya lebih dalam daripada sekadar citra.

Sampah adalah cermin cara manusia memperlakukan ruang hidupnya sendiri.
Kota yang dipenuhi sampah sesungguhnya bukan hanya mengalami krisis kebersihan, melainkan juga krisis kesadaran. Sebab lingkungan yang kotor lahir dari cara berpikir yang menganggap bumi sebagai tempat membuang, bukan tempat hidup bersama.

Karena itu, langkah panitia TSN 2 menggandeng Yayasan Butta Porea Indonesia patut dibaca lebih jauh daripada sekadar urusan teknis kebersihan acara. Ini adalah sinyal bahwa event publik di Makassar mulai bergerak dari pola lama yang ego sentris menuju pendekatan yang lebih eko sentris.

Keramaian tidak lagi dipahami sebagai alasan untuk merusak ruang bersama.
Sebaliknya, keramaian justru harus menjadi momentum untuk menunjukkan kedewasaan kolektif.

Dan mungkin di situlah makna paling penting dari semua ini: bahwa menjaga lingkungan tidak harus selalu dimulai dari konferensi besar atau kebijakan rumit. Kadang ia dimulai dari hal yang tampak sepele—dari tempat sampah yang dipisahkan dengan benar, dari botol plastik yang tidak dibuang sembarangan, atau dari panitia acara yang memilih bertanggung jawab terhadap sisa pestanya sendiri.
Makassar membutuhkan lebih banyak event seperti ini.

Sebab kota modern bukan hanya kota yang mampu membangun gedung dan menghadirkan festival, melainkan kota yang mampu merawat ruang hidupnya di tengah pertumbuhan manusia dan konsumsi yang terus meningkat.

TSN 2 Alumni SMAN 2 Makassar telah menunjukkan bahwa sebuah reuni besar tetap bisa berlangsung meriah tanpa meninggalkan luka ekologis bagi lingkungan sekitar. Dan itu penting, terutama ketika acara berlangsung di situs sejarah yang menjadi identitas bersama masyarakat Sulawesi Selatan.

Pada akhirnya, sejarah tidak hanya diukur dari bangunan tua yang berhasil dipertahankan, tetapi juga dari cara generasi hari ini memperlakukannya.
Dan di Fort Rotterdam, selama tiga hari itu, kita melihat satu pelajaran sederhana: manusia bisa berkumpul dalam jumlah besar tanpa harus meninggalkan gunungan sampah sebagai penutup cerita.

Karena peradaban, sesungguhnya, selalu terlihat dari apa yang ditinggalkan manusia setelah keramaiannya selesai.

Berita Terkait

Memaknai ulang pertumbuhan 5,61%: Dari perdebatan angka menuju penguatan fondasi ekonomi nasional
Dari Sampah ke Krisis Pangan: Ancaman Diam-Diam bagi Nasi di Meja Kita
Ketika Sampah Dikurasi: Membaca Masa Depan Ekologi Makassar dari Tumpukan yang Selama Ini Diabaikan
”HOAKS DAN DUSTA DIGITAL: Ancaman Moral Zaman Modern”
Tanami Tanata’: Ketika Kota Belajar Mengolah Sisa Hidupnya Sendiri
Menata Kota, Menata Kesadaran Etika Lingkungan dan Harapan Baru Makassar
Keyhole Garden dan Lorong-Lorong yang Kembali Bernapas
Pisai Sampata’, Tanami Tanata’

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 07:07 WIB

Ketika Keramaian Tak Lagi Meninggalkan Sampah

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:31 WIB

Memaknai ulang pertumbuhan 5,61%: Dari perdebatan angka menuju penguatan fondasi ekonomi nasional

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:09 WIB

Dari Sampah ke Krisis Pangan: Ancaman Diam-Diam bagi Nasi di Meja Kita

Rabu, 20 Mei 2026 - 04:29 WIB

Ketika Sampah Dikurasi: Membaca Masa Depan Ekologi Makassar dari Tumpukan yang Selama Ini Diabaikan

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:19 WIB

”HOAKS DAN DUSTA DIGITAL: Ancaman Moral Zaman Modern”

Berita Terbaru

Opini

Ketika Keramaian Tak Lagi Meninggalkan Sampah

Senin, 25 Mei 2026 - 07:07 WIB