HALLOMAKASSAR.COM — Perwakilan PT SUS mendatangi SMA Negeri 6 Makassar untuk melakukan pertemuan dengan pihak sekolah, Jumat (15/8/2025). Dalam kunjungan tersebut, mereka bertemu langsung dengan Humas sekolah, H. Hasanuddin, dan salah seorang guru, Marten.
Pertemuan berlangsung di ruang guru dan membahas sejumlah hal terkait rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang lokasinya berdekatan dengan lingkungan sekolah.
Dua perwakilan PT SUS, termasuk seorang perempuan dan pria keturunan Tionghoa, menjadi delegasi yang menyampaikan penjelasan kepada pihak sekolah.
Sementara itu, Puluhan warga dari Mula Baru, Tamalalang, Klaster Alamanda, dan Klaster Akasia memadati ruang pertemuan dalam agenda mediasi antara perwakilan warga dengan pihak SMA Negeri 6.
Mediasi yang turut dihadiri kepala sekolah dan humas SMAN 6 ini membahas keresahan warga terkait rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di sekitar kawasan mereka.
Suasana berlangsung cukup tegang karena warga hadir dalam jumlah besar untuk menyuarakan penolakan dan kekhawatiran atas dampak lingkungan maupun kenyamanan belajar siswa.
Puluhan warga Bira, Kelurahan Tamalanrea, berencana mendatangi Balai Kota Makassar pada Selasa (19/8/2025) untuk bertemu langsung dengan Wali Kota Munafri Arifuddin.
Langkah ini diambil guna menyampaikan penolakan mereka terhadap rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang akan dibangun di sekitar permukiman Mula Baru, Tamalalang, Klaster Alamanda, dan Klaster Akasia.
“Kami sudah mengajukan permohonan audiensi. Semoga Pak Wali bisa menerima kami,” kata Haji Akbar Adhy, salah satu perwakilan warga, Jumat (15/8/2025).
Baca Juga:
Serah Terima LHP BPK, Munafri Tegaskan Komitmen Jalankan Tata Kelola Pemerintah Akuntabel
Operasi SAR Gabungan Dipimpin BPBD Makassar, Berhasil Temukan Anak Tenggelam di Pantai Barombong
Ahli Tegaskan Perkara Bank Sulselbar Agus Fitrawan Ranah Perdata
Menurutnya, sekitar 50 warga siap hadir untuk mengawal aspirasi tersebut. Mereka menilai proses penentuan lokasi PSEL tidak transparan dan tidak memperhatikan aspek keselamatan warga.
“Penolakan ini untuk menyelamatkan lingkungan dan kesehatan kami di masa depan. Kami ingin hidup bebas dari polusi demi anak cucu,” tegas Haji Akbar.
Sebelumnya, ratusan warga Bira telah menggelar aksi unjuk rasa di DPRD Kota Makassar, Jalan AP Pettarani, dan mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Ketua Komisi C DPRD Makassar Azwar.
Aksi tersebut juga diikuti sejumlah siswa SMAN 6 Makassar yang khawatir keberadaan PSEL akan mengganggu proses belajar mengajar.
Baca Juga:
TVRI Bebaskan UMKM Gelar Nobar Gratis Piala Dunia 2026
Pemerintah Evaluasi Pencarian Korban Pesawat ATR 42-500 di Maros
Cuaca Buruk Hambat Evakuasi – Pencarian Korban Pesawat ATR 42-500
Warga berharap pertemuan dengan Wali Kota dapat menjadi langkah awal mencari solusi, termasuk kemungkinan memindahkan lokasi PSEL ke area yang dinilai lebih aman dan tidak meresahkan masyarakat.***






