Oleh: Dr Nurmal Idrus
Mulai 1 Agustus, hari ini, TPA Tamangapa tidak lagi menerima sampah campur. Sekilas terdengar sederhana.
Padahal ini salah satu keputusan paling berani dalam tata kelola lingkungan Kota Makassar beberapa tahun terakhir. Kebijakan ini merupakan bagian dari penghentian praktik open dumping, sehingga TPA hanya menerima sampah residu, sementara sampah organik, anorganik, dan B3 harus dipilah sejak dari sumbernya.
Sudah terlalu lama kita memperlakukan tempat sampah seperti lemari rahasia. Apa pun masalahnya, solusinya satu: “buang saja.” Sisa makanan berteman dengan botol plastik. Popok berdampingan dengan kardus. Daun kering berpelukan dengan baterai bekas. Semua akur… sampai akhirnya gunung sampah yang bertengkar dengan lingkungan.
Kita sering mengeluh kota bau. Tapi lupa bahwa bau itu bukan diproduksi oleh pemerintah. Bau itu diproduksi oleh kebiasaan kita sendiri.
Karena itu, kebijakan ini layak diapresiasi. Untuk pertama kalinya pemerintah berkata, “Maaf, TPA bukan lagi tempat penitipan dosa ekologis.”
Satirenya begini, selama ini yang paling disiplin justru truk sampah. Setiap hari datang tepat waktu. Yang tidak disiplin adalah isi rumah kita. Semua dicampur, lalu berharap petugas menyelesaikan keajaiban yang bahkan pesulap pun menyerah melakukannya.
Lucunya lagi, banyak orang merasa memilah sampah itu pekerjaan berat. Padahal setiap hari kita mampu memilah teman, memilah pilihan politik, memilah tontonan, bahkan memilah siapa yang pesannya dibalas dan siapa yang hanya di-read. Masa memilah sampah kalah sulit?
Kota-kota maju tidak dibangun oleh teknologi canggih semata. Mereka dibangun oleh kebiasaan kecil yang dilakukan jutaan orang setiap hari. Peradaban modern dimulai dari kesadaran bahwa sampah bukan sekadar dibuang, tetapi dikelola.
Jadi mulai hari ini, jangan lagi bertanya, “Sampahku mau dibuang ke mana?” Pertanyaan yang benar adalah, “Sudahkah saya memilahnya?”
Karena sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya sistem pengelolaan sampah Kota Makassar, tetapi juga kualitas peradaban warganya.
Kalau sampah saja sudah diminta naik kelas, jangan sampai manusianya tetap bertahan di kelas lama.







