Oleh: Mursalim Nohong (Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas)
Gegap gempita teriakan tentang “penjatahan (kelangkaan)” BBM di sebagian daerah baru saja selesai. Deru bunyi kendaraan telah menyebar dan Sopir Ojol pun mulai bersemangat lagi. Dapur UMKM pun berasap kembali karena melayani pesanan konsumen melalui Ojol.
Publik sebagian besar berharap bahwa permasalahan BBM akan berakhir dengan landing yang mulus. Para menteri terkait pun kembali bekerja dengan orientasi pada kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang selalu didengungkan oleh presiden yang rela mati demi rakyat. Dari ruang istana, Presiden Prabowo Subianto secara mendadak melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa yang baru menjabat sekitar 1 tahun.
Pergantian ini merupakan rotasi kedua di kursi Menkeu sepanjang pemerintahan Prabowo meskipun belum separuh perjalanan pemerintahannya— setelah sebelumnya Purbaya menggantikan Sri Mulyani — dan merupakan bagian dari reshuffle Kabinet Merah Putih yang lebih luas. Suahasil bukan wajah baru bagi pemerintahan saat ini maupun bagi pasar.
Sebelumnya, Suahasil Nazara telah menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 25 Oktober 2019, mendampingi Sri Mulyani lalu Purbaya, dengan rekam jejak lebih dari dua dekade di birokrasi fiskal — mulai dari Kepala Badan Kebijakan Fiskal (2016), akademisi Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia, hingga terlibat dalam kebijakan desentralisasi fiskal dan penanggulangan kemiskinan nasional.
Pengalaman ini tentunya sangat mumpuni dalam bidang keuangan, sehingga diharapkan dapat mendampingi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto hingga akhir masa jabatan. Seperti biasanya, pada setiap momentum pergantian pemimpin, pasar akan bereaksi tanpa arahan. Bentuknya bisa positif atau negatif, tergantung pada variabel lain yang turut berpengaruh.
Fakta, terutama yang berasal dari reaksi paling terukur, datang dari lantai bursa. Sepanjang Senin, IHSG bergerak sangat volatil. Dibuka melemah di 6.533,87, sempat menyentuh tertinggi 6.550, lalu ambruk hingga titik terendah 6.371,39 — koreksi sekitar 1,7–2% — dengan 455–470 saham melemah berbanding hanya sekitar 229 saham menguat. Rentang pergerakan hari itu mencapai 178,6 poin, salah satu yang paling lebar dalam beberapa pekan terakhir.
Begitu kabar pelantikan Suahasil merebak sekitar pukul 15.05–15.50 WIB, arah indeks langsung berbalik tajam. IHSG melompat kembali ke kisaran 6.541–6.550, pemulihan sekitar 2,56% dari titik terendahnya hanya dalam hitungan menit. Pada penutupan, indeks masih terkoreksi tipis 0,10% ke 6.534,69, dengan nilai transaksi Rp17,5–17,77 triliun dari sekitar 32,8–33,4 miliar lembar saham. Indeks LQ45 (saham-saham berkapitalisasi besar) justru menguat 1,21% ke 657,40, dan saham perbankan seperti BBCA melonjak 2,77% dengan nilai transaksi tertinggi mencapai Rp1,4 triliun — indikasi bahwa investor institusional memburu saham blue-chip begitu kepastian kepemimpinan fiskal muncul.
M. Nafan Aji Gusta menyebut bahwa rebound ini merupakan respons awal yang “cenderung positif atau setidaknya netral-positif”, namun mengingatkan agar tak buru-buru menyimpulkan bahwa pasar sepenuhnya menyambut pergantian tersebut — indikator yang lebih menentukan adalah keberlanjutan penguatan dalam beberapa hari ke depan. Analis Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak sideways di 6.400–6.600 pada perdagangan berikutnya, dengan indeks masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 100 hari (MA100).
Berbeda dengan saham, rupiah tidak menunjukkan lonjakan yang langsung terasa. Ruiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.607–17.650 per dolar AS sepanjang hari, melemah tipis dari penutupan Jumat sebesar Rp17.611.
Analis menilai pelemahan ini lebih didorong oleh faktor global: penguatan indeks dolar AS (DXY) ke sekitar 99, lonjakan harga minyak Brent ke US 107/barel akibat eskalasi di Timur Tengah menambah beban subsidi energi dan tekanan defisit. Langkah jangka pendek mencakup evaluasi cepat terhadap asumsi harga minyak dalam APBN berjalan serta opsi mitigasi (lindung nilai, penyesuaian subsidi terarah) agar tidak mengganggu disiplin fiskal. 4) Konsolidasi tim dan validasi kebijakan yang sedang berjalan.
Prioritasnya adalah memastikan kebijakan yang sudah berjalan di era Purbaya (termasuk operasi pasar SBN, koordinasi APBN dengan DPR) tetap konsisten, sambil memberi ruang evaluasi terbatas tanpa menimbulkan kesan “reset kebijakan” yang bisa memicu kegugupan pasar. 5) Kelola ekspektasi lembaga rating dan investor institusional. Pergantian menteri keuangan yang terkesan mendadak berisiko memicu pertanyaan dari lembaga pemeringkat kredit dan investor jangka panjang. Pertemuan atau pernyataan yang ditargetkan kepada mereka yang menegaskan arah kebijakan fiskal jangka menengah tetap sama akan membantu menahan potensi downgrade sentimen atau kenaikan credit spread Indonesia.
Inti dari semua langkah ini adalah kontinuitas. Pasar sudah menunjukkan sinyal awal bahwa Suahasil diterima karena rekam jejaknya yang dikenal, bukan karena euforia perubahan. Tugas jangka pendeknya adalah mengonfirmasi sinyal itu melalui tindakan cepat dan konsisten, bukan melalui gebrakan kebijakan baru yang justru bisa menimbulkan keraguan di tengah kondisi global yang masih bergejolak.








