Munafri di Tengah Krisis Makassar: Kewenangan Terbatas, Respons Tak Terbatas

Avatar photo

- Pewarta

Sabtu, 12 September 2026 - 04:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Nurmal Idrus

Kelangkaan BBM dan krisis air bersih yang melanda Makassar menjadi ujian serius bagi pemerintah daerah. Antrean panjang di hampir seluruh SPBU menunjukkan bahwa persoalan ini sudah menyentuh kebutuhan dasar dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dalam beberapa hari terakhir, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin terlihat mengambil langkah yang cukup agresif. Secara marathon, ia mendatangi langsung sumber persoalan. Munafri datang ke Pertamina Makassar dan mendesak solusi konkret terkait distribusi BBM. Setelah itu, ia meronda sejumlah SPBU untuk memastikan penyaluran BBM berjalan lancar dan masyarakat tidak terus-menerus terjebak dalam antrean panjang.

Langkah ini penting karena dalam situasi krisis, masyarakat membutuhkan pemerintah yang hadir di lapangan, bukan hanya pernyataan di ruang konferensi.

Memang, sebagian besar akar persoalan BBM berada pada kebijakan nasional dan sistem distribusi yang kewenangannya tidak berada sepenuhnya di tangan wali kota. Munafri tidak bisa menentukan produksi maupun kuota BBM. Tetapi ia masih memiliki ruang untuk menekan, mengkoordinasikan, mengawasi dan memastikan kepentingan warga Makassar diperjuangkan.

Keputusan mendorong pembelajaran daring bagi siswa juga dapat dibaca dalam kerangka yang sama: mengurangi mobilitas masyarakat di tengah tekanan konsumsi energi, sembari menjaga proses pendidikan tetap berjalan.

Pada persoalan air bersih, Pemkot Makassar juga berupaya melakukan distribusi secara lebih merata agar krisis tidak semakin membebani masyarakat.

Yang kemudian menjadi menarik adalah perbedaan kecepatan respons antarpemerintahan. Di tengah persoalan yang sebagian besar dipicu faktor nasional, suara Munafri justru terdengar lebih nyaring dan langkahnya terlihat lebih kasatmata di lapangan. Sementara pemerintah provinsi masih ditunggu untuk menunjukkan orkestrasi yang lebih cepat dan kuat dalam menangani persoalan yang dampaknya meluas ke Makassar dan daerah sekitarnya.

Pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu peduli siapa yang paling berwenang. Mereka ingin BBM tersedia, antrean berkurang, air mengalir dan aktivitas kehidupan kembali normal.

Dalam kondisi seperti ini, keterbatasan kewenangan seharusnya bukan alasan untuk pasif. Justru di situlah kepemimpinan diuji: seberapa jauh seorang kepala daerah mampu menggunakan kewenangan yang terbatas untuk mencari dan memaksa lahirnya solusi. (*)

 

Berita Terkait

Appi dan Logika Personal Kapital
Tetap Tenang Ketika Ada yang Ingin Menjatuhkanmu
Euforia pendidikan gratis: Menimbang janji, menghitung ongkos
Jika Penjara Bisa Terasa Mewah, Masihkah Hukuman Memiliki Efek Jera?
Teba Modern di Sekolah Rakyat Makassar: Ketika Sampah Menjadi Guru
SATU BUMI, SATU PERJUANGAN
Bukan Euforia, tapi Kepercayaan Bersyarat: Menkeu Baru di Tengah Pasar yang Menahan Napas
Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Antrean

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Appi dan Logika Personal Kapital

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Tetap Tenang Ketika Ada yang Ingin Menjatuhkanmu

Rabu, 30 September 2026 - 06:56 WIB

Euforia pendidikan gratis: Menimbang janji, menghitung ongkos

Minggu, 27 September 2026 - 19:43 WIB

Jika Penjara Bisa Terasa Mewah, Masihkah Hukuman Memiliki Efek Jera?

Minggu, 27 September 2026 - 19:13 WIB

Teba Modern di Sekolah Rakyat Makassar: Ketika Sampah Menjadi Guru

Berita Terbaru

Info Makassar

Pemprov Sulsel Percepat Upaya Penurunan Stunting, Ini Langkahnya

Jumat, 9 Okt 2026 - 15:51 WIB