HALLOMAKASSAR.COM — Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Mohammad Jumhur Hidayat, menilai penataan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Makassar, telah menunjukkan hasil yang signifikan. Menurutnya, penerapan sistem sanitary landfill dan controlled landfill berhasil mengurangi bau sampah, sehingga kondisi TPA jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Jumhur menyampaikan, timbunan sampah di TPA Tamangapa telah ditutup menggunakan geomembran atau bioplastik, sementara sebagian lainnya diuruk dengan tanah. Langkah tersebut dinilai efektif menekan bau yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
“Ada sanitary landfill, ada juga controlled landfill. Timbunan sampah ditutup menggunakan bioplastik atau geomembran, sementara sebagian lainnya diuruk dengan tanah. Yang jelas, bau dari timbunan sampah sudah hilang. Yang masih perlu ditangani tinggal air lindinya. Ini sudah menjadi contoh yang baik, tinggal disempurnakan lagi, dan menurut saya hasilnya sudah bagus,” kata Jumhur saat mengunjungi langsung lokasi TPA Tamangapa, Antang. Rabu (5/8/2026)
Ia mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam menindaklanjuti arahan Kementerian Lingkungan Hidup. Menurutnya, sebagian besar rekomendasi yang diberikan telah dilaksanakan dengan baik.
“Pak Wali Kota sudah bekerja dengan baik. Permintaan kami dari KLH kepada Pemerintah Kota Makassar pada dasarnya sudah dilaksanakan dengan baik. Saya kira progresnya sudah mencapai lebih dari 90 persen dari harapan yang kami inginkan. Sekarang tinggal sedikit lagi, terutama membuat semacam blocking agar saat hujan turun, air lindi tidak menyebar, tetapi langsung masuk ke saluran atau kolam yang telah dipersiapkan,” ujarnya.
Jumhur menambahkan, penyempurnaan sistem pengendalian air lindi menjadi tahapan penting agar pengelolaan TPA semakin optimal dan dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan.
Ia juga berharap metode penutupan sampah menggunakan tanah dan biomembran dapat diterapkan secara lebih luas, baik di area lain dalam TPA Tamangapa maupun di daerah lain di Indonesia.
“Saya rasa ini bisa menjadi contoh yang baik bagi kota-kota lain. Kalau memang ada kemauan, hal seperti ini bisa dilakukan. Sampah diuruk dengan tanah, ditutup menggunakan bioplastik atau biomembran, sehingga masyarakat tidak lagi mencium bau menyengat seperti sebelumnya,” tutur Jumhur.
Selain pembenahan timbunan sampah dan pengelolaan air lindi, Jumhur turut mengapresiasi pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari TPA. Menurutnya, gas tersebut sebaiknya dimanfaatkan karena selain mengurangi risiko terhadap lingkungan, juga dapat membantu memenuhi kebutuhan energi masyarakat sekitar.
“Saya melihat di beberapa titik gas metana sudah disalurkan ke permukiman. Alhamdulillah, ini dapat membantu mengurangi beban masyarakat. Kalau bisa dimanfaatkan secara gratis tentu lebih baik daripada terbuang begitu saja. Gas metana memang harus disalurkan karena jika tidak dikelola dapat membahayakan. Kalau skalanya besar bisa menjadi peluang bisnis, tetapi kalau masih kecil setidaknya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sekaligus menjadi cara pembuangan gas yang aman,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan Pemerintah Kota Makassar akan terus menyempurnakan penataan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh sistem pengelolaan sampah di TPA berjalan sesuai ketentuan dan tidak lagi menimbulkan pencemaran lingkungan.
Munafri mengatakan pembenahan TPA Tamangapa akan terus dilakukan secara bertahap di bawah pendampingan Kementerian Lingkungan Hidup agar seluruh aspek pengelolaan memenuhi standar yang telah ditetapkan.
“Tentu kami akan terus menyempurnakan berbagai hal yang telah kami lakukan di bawah bimbingan Kementerian Lingkungan Hidup. Tujuannya untuk memastikan seluruh proses pengelolaan di TPA ini berjalan sesuai dengan ketentuan dan tidak ada lagi aktivitas yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan,” kata Munafri saat mendapingi Menteri LH melihat langsung TPA Tamangapa
Ia menambahkan, keberhasilan pembenahan TPA Tamangapa tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat.
“Karena itu, kami sangat mengharapkan kerja sama semua pihak agar TPA ini dapat dikelola dengan lebih baik dan sistem pengelolaannya semakin sempurna ke depan,” ujar Munafri.
Menurut Munafri, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, serta memenuhi standar pengelolaan lingkungan hidup.(*)







