Menanam Kepastian di Tanah yang Sempit

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 21 April 2026 - 07:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mashud Azikin (Pemerhati Persampahan Kota Makassar, Pegiat Ecoenzym)

Pagi di Makassar sering dimulai dengan dua hal yang bertolak belakang: harapan dan ketidakpastian. Di satu sisi, kota bergerak cepat—kendaraan berderet, notifikasi pekerjaan berbunyi, aktivitas ekonomi tak pernah benar-benar tidur. Di sisi lain, ada kegelisahan yang tidak selalu tampak di permukaan: tentang penghasilan yang tidak tetap, tentang pekerjaan yang bisa hilang sewaktu-waktu, tentang masa depan yang sulit direncanakan.

Inilah lanskap batin masyarakat kota hari ini—sebuah ruang hidup yang diisi oleh mereka yang bekerja, tetapi belum tentu merasa aman. Mereka adalah bagian dari apa yang disebut sebagai precariat: manusia-manusia yang berdiri di atas pijakan yang tidak sepenuhnya kokoh.
Namun, manusia selalu punya cara untuk merespons keadaan. Di tengah keterbatasan, selalu ada upaya untuk menciptakan makna, bahkan dari hal-hal yang paling sederhana.

Di lorong-lorong sempit Makassar, kita mulai melihat sesuatu yang menarik. Di antara tembok rumah yang rapat dan ruang yang terbatas, tumbuh pot-pot kecil berisi cabai, kangkung, dan tomat. Di sudut halaman, ember-ember bekas diisi cairan fermentasi yang oleh sebagian orang disebut eco enzyme. Di tempat lain, tumpukan sampah yang dulu dianggap tidak berguna kini dipilah, dikumpulkan, dan diberi nilai.

Apa yang terjadi di sini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam atau mengelola sampah. Ia adalah bentuk lain dari manusia memahami hidupnya—cara sederhana untuk berkata: “Saya masih punya kendali.”

Dalam perspektif humaniora, tindakan ini menarik. Ia bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal relasi manusia dengan ruang, dengan alam, dan dengan dirinya sendiri. Ketika seseorang menanam cabai di pot kecil, ia tidak hanya menumbuhkan tanaman. Ia sedang merawat harapan. Ia sedang membangun hubungan baru dengan waktu—bahwa sesuatu yang ditanam hari ini akan berbuah di masa depan.

Di tengah dunia kerja yang serba cepat dan tidak pasti, aktivitas seperti ini menghadirkan ritme yang berbeda. Lebih lambat, lebih sabar, dan lebih membumi.
Begitu pula dengan pengolahan sampah.

Apa yang sebelumnya dibuang tanpa pikir panjang, kini dihadapi kembali. Dipilah, diolah, dan diberi makna baru. Ada semacam etika yang lahir di sini: bahwa apa yang kita hasilkan tidak boleh sepenuhnya kita abaikan.

Sampah, dalam konteks ini, menjadi cermin. Ia memperlihatkan gaya hidup, kebiasaan, bahkan cara kita memandang dunia. Ketika sampah mulai dikelola, yang berubah bukan hanya lingkungan, tetapi juga kesadaran.

Di titik ini, urban farming dan ekonomi sirkular 3R tidak lagi sekadar program teknis. Ia menjadi praktik kebudayaan.
Ia membentuk kebiasaan baru, cara pandang baru, dan pada akhirnya, identitas baru. Warga tidak lagi hanya menjadi konsumen kota, tetapi juga produsen kehidupan. Mereka tidak hanya menerima, tetapi juga mencipta.

Lebih jauh, praktik ini juga memperkuat relasi sosial. Di banyak tempat, kebun kecil tidak dikelola sendiri, tetapi bersama. Sampah tidak diurus individu, tetapi komunitas. Ada percakapan yang terjadi, ada kerja sama yang dibangun, ada rasa memiliki yang tumbuh.

Dalam dunia yang semakin individualistik, ini adalah sesuatu yang berharga.
Ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, yang sering kali hilang adalah rasa keterhubungan. Orang sibuk bertahan sendiri-sendiri. Namun melalui aktivitas kolektif seperti ini, muncul kembali kesadaran bahwa hidup tidak harus dijalani sendirian.

Makassar, dengan tradisi sosialnya yang kuat, memiliki fondasi untuk itu. Budaya gotong royong yang mungkin sempat memudar, menemukan bentuk barunya dalam pengelolaan lingkungan dan pangan.

Tentu saja, semua ini tidak tanpa tantangan. Tidak semua orang punya waktu, tidak semua punya kesadaran, dan tidak semua langsung melihat manfaatnya. Ada proses yang panjang, bahkan sering kali tidak terlihat hasilnya dalam waktu singkat.

Namun justru di situlah letak nilai kemanusiaannya.
Bahwa di tengah tekanan hidup yang serba cepat, masih ada ruang bagi manusia untuk berhenti sejenak, menanam sesuatu, merawat sesuatu, dan menunggu sesuatu tumbuh. Bahwa tidak semua hal harus instan untuk menjadi berarti.

Fenomena precariat mungkin akan terus menjadi bagian dari zaman kita. Ketidakpastian tidak mudah dihapus. Tetapi cara kita meresponsnya bisa menentukan kualitas hidup kita sebagai manusia.
Dengan menanam, kita belajar tentang harapan.
Dengan mengolah, kita belajar tentang tanggung jawab.
Dengan berbagi, kita belajar tentang kebersamaan.

Dan mungkin, dari hal-hal kecil itulah, kita mulai menemukan kembali sesuatu yang sering hilang dalam hiruk-pikuk kota: rasa cukup, rasa terhubung, dan rasa menjadi manusia seutuhnya.

Di tanah yang sempit, di ruang yang terbatas, manusia ternyata masih bisa menanam kepastian. Bukan kepastian yang besar dan absolut, tetapi cukup untuk membuat hidup terasa lebih utuh.

Berita Terkait

Iman dan Krisis Ekologis: Membaca Ulang Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah
PSEL dan Upaya Menata Ulang Sistem Persampahan Kota
Saat Sampah Menyalakan Kota : Harapan Baru Lewat PSEL
Mengasah Naluri Balap Lewat Skrining Yamaha
Dari TPA ke Energi dan Destinasi: Strategi Makassar Keluar dari Darurat Sampah
PSEL Makassar: Jalan Tengah yang Adil bagi Warga Tamangapa
“PSEL untuk Makassar: Solusi Nyata Menuju Kota Bersih dan Berkelanjutan”
Makassar Bersiap Masuk Era Baru: Sampah Diolah Jadi Energi, Krisis Ditantang dengan Teknologi

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 07:29 WIB

Menanam Kepastian di Tanah yang Sempit

Sabtu, 11 April 2026 - 14:48 WIB

Iman dan Krisis Ekologis: Membaca Ulang Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah

Selasa, 7 April 2026 - 11:18 WIB

PSEL dan Upaya Menata Ulang Sistem Persampahan Kota

Sabtu, 4 April 2026 - 18:32 WIB

Saat Sampah Menyalakan Kota : Harapan Baru Lewat PSEL

Sabtu, 4 April 2026 - 08:27 WIB

Mengasah Naluri Balap Lewat Skrining Yamaha

Berita Terbaru