HALLOMAKASSAR.COM — Direktur Profetik Institute, Muh Asratillah, menilai penentuan Sekretaris DPD I Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi ujian awal yang sangat penting bagi kepemimpinan Ilham Arief Sirajuddin (IAS).
Menurut Asratillah, posisi sekretaris bukan sekadar pelengkap dalam struktur organisasi. Sekretaris memiliki peran penting dalam menggerakkan kerja harian partai, menjadi penghubung antara ketua dengan DPD II, serta memastikan keputusan politik diterjemahkan dengan baik.
“Penentuan Sekretaris DPD I Golkar Sulsel menurut saya merupakan ujian awal yang sangat penting bagi kepemimpinan Ilham Arief Sirajuddin. Jabatan ini bukan posisi pelengkap dalam struktur organisasi. Sekretaris adalah penggerak kerja harian partai, penghubung antara ketua dengan DPD II, sekaligus orang yang memastikan keputusan politik diterjemahkan menjadi agenda organisasi. Karena itu, pilihan sekretaris harus ditempatkan sebagai keputusan strategis yang akan menentukan efektif atau tidaknya kepemimpinan IAS dalam lima tahun ke depan,” ujar Muh Asratillah.
Ia mengingatkan, kekeliruan dalam memilih sekretaris dapat menjadi persoalan serius bagi Golkar Sulsel. Terlebih, posisi tersebut akan berpengaruh terhadap proses konsolidasi dan pencapaian target politik partai.
“Saya melihat kekeliruan memilih sekretaris dapat menjadi masalah serius bagi Golkar Sulsel. Jika orang yang dipilih tidak mampu bekerja penuh, terlalu membawa kepentingan kelompok, atau tidak dipercaya oleh struktur di bawah, maka konsolidasi akan tersendat. Akibatnya target menguatkan struktur, meningkatkan elektoral, merebut kembali posisi strategis di parlemen, dan menghadapi Pemilu 2029 dapat gagal direalisasikan. Dalam organisasi politik, ketua yang kuat tetap membutuhkan sekretaris yang mampu menerjemahkan visi menjadi kerja nyata. Karena itu, kualitas sekretaris akan sangat menentukan organizational effectiveness Golkar Sulsel,” katanya.
Asratillah menilai sosok yang dibutuhkan tidak semata-mata kader senior atau figur yang memiliki pengalaman panjang. Menurutnya, Golkar membutuhkan sekretaris yang mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Sosok yang dibutuhkan bukan hanya kader senior atau figur yang memiliki pengalaman panjang. Golkar membutuhkan sekretaris yang mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok. Ia harus mampu bekerja dengan semua faksi, termasuk kelompok yang mungkin memiliki pilihan berbeda dalam Musda. Kemampuan membangun kepercayaan menjadi sangat penting karena sekretaris akan berhadapan langsung dengan DPD II, kader, pengurus, serta berbagai kepentingan yang hidup di dalam tubuh Golkar Sulsel,” ungkapnya.
Ia menyebut tantangan IAS saat ini adalah menemukan figur yang tidak hanya kompeten, tetapi juga dipercaya oleh seluruh kelompok di internal Golkar Sulsel.
“Menurut saya, tantangan IAS adalah menemukan figur yang bukan hanya kompeten, tetapi juga dapat dipercaya oleh semua kelompok. Dalam perspektif inclusive leadership, seorang sekretaris harus mampu menjadi titik temu berbagai kepentingan, bukan menjadi perpanjangan tangan satu faksi. Ia harus cukup kuat untuk mengambil keputusan organisasi, tetapi cukup terbuka untuk mendengar aspirasi daerah. Dengan karakter seperti itu, sekretaris dapat membantu IAS mengubah suasana pasca Musda dari kompetisi menjadi rekonsiliasi dan kerja bersama,” jelasnya.
Lebih lanjut, Asratillah menilai ukuran keberhasilan kepengurusan baru tidak ditentukan oleh besarnya nama yang masuk dalam struktur, melainkan kemampuan mereka bekerja untuk organisasi.
“Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kepengurusan baru tidak ditentukan oleh seberapa besar nama besar yang masuk dalam struktur, tetapi oleh kemampuan mereka bekerja untuk organisasi. Golkar Sulsel memiliki target besar menuju Pemilu 2029 dan ingin kembali menjadi kekuatan politik utama di Sulawesi Selatan. Untuk mencapai itu, IAS membutuhkan sekretaris yang memiliki kapasitas, integritas, loyalitas organisasi, waktu yang cukup untuk bekerja, serta diterima oleh seluruh faksi. Jika pilihan ini tepat, sekretaris dapat menjadi mesin konsolidasi. Tetapi jika keliru, jabatan tersebut justru dapat menjadi titik lemah yang menghambat seluruh agenda Golkar Sulsel,” pungkasnya.(*)







