HALLOMAKASSAR.COM– Sebanyak enam mahasiswa dari Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin (Korpala Unhas) melakukan pelayaran ilmiah yang mencakup empat negara menggunakan perahu tradisional sandeq.
Saat ini, tim berlabuh di Sungailiat, Bangka, setelah menempuh 30 hari pelayaran dari Makassar.
“Kami dalam rangka penelitian penyebaran orang-orang Bugis, Makassar, Mandar, Bajau, dan lainnya yang zaman dulunya juga berlayar dengan perahu yang sama,” kata Atlet Tim Pelayaran Ekspedisi Akademis III Korpala, Ashrullah Djalil, dikutip, Minggu, 7 September 2025.
Ashrullah menuturkan, tim berlayar dari Makassar pada 3 Agustus 2025 dengan menyinggahi wilayah Majene, Tanjung Aru, Belitung, hingga kemudian tiba di Bangka.
“Pelayaran paling lama saat melintasi Selat Makassar dan Selat Karimata, bisa 23 sampai 26 jam,” ujar Ashrullah.
Selama pelayaran tersebut, tim menghadapi tantangan berupa angin kencang musim timur yang disertai ombak besar.
Kepiawaian anggota tim yang sudah menjalani serangkaian latihan dan simulasi ini pun diuji, tidak hanya faktor alam, tetapi juga navigasi.
Alih-alih didukung seperangkat monitor dan radar canggih, tim justru hanya mengandalkan ponsel Android yang berisi aplikasi GPS Tracker.
Selanjutnya, tim hanya mengandalkan observasi lapangan dan komunikasi untuk berbagi kabar dengan tim darat yang juga dipantau TNI Angkatan Laut.
“Alhamdulillah perjalanan lancar dan perahunya masih kuat,” ungkap Ashrullah.
Berbeda dengan kondisi perahu yang tetap kokoh, sebagian anggota tim terpaksa harus diganti karena kondisi fisik sempat menurun.
“Total kami ada sembilan orang yang dibagi enam orang di laut dan tiga orang di darat,” jelas Ashrullah.
Namun, cerita pelayaran tidak selalu soal duka. Perasaan senang dan bahagia saat tim bisa berlabuh dan berinteraksi dengan masyarakat yang telah berkembang dari akar budaya yang sama. Sementara di tengah pelayaran, tim juga sering bertemu dengan kawanan lumba-lumba.
Hewan mamalia tersebut selalu berenang dekat perahu sembari memanfaatkan arus laut yang terhempas buritan.
“Perjalanan ini didokumentasikan dan diseminarkan serta dibuat film,” ucap Ashrullah.
Selaras dengan misi penelitian, pelayaran yang digelar ketiga kalinya ini sekaligus membawa pesan bahwa perahu sandeq yang ramping dengan panjang 8 meter dan lebar 1,5 meter merupakan warisan nenek moyang yang tak lekang oleh waktu.
Kalau dulunya perahu sandeq hanya mengandalkan layar dan dayung, kini sudah dilengkapi mesin motor. Pelayaran dijadwalkan selama 66 hari dengan menyinggahi Malaysia, Singapura, dan tujuan akhir Thailand.
Pengurus BPD Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Bangka, Ratno Daeng Mappiwali, mengatakan, setelah istirahat dan mengisi perbekalan, tim Korpala akan melanjutkan pelayaran di Selat Malaka.
“Ini adalah pelayaran tradisi, mengingatkan lagi bagaimana nenek moyang membuat perahu dan mengarungi lautan,” ujar Ratno.
Pelayaran yang dilakukan tim Korpala Unhas bukanlah pekerjaan mudah. Marabahaya setiap saat mengintai, tetapi hal itu telah diantisipasi dengan berbagai persiapan sejak dua tahun sebelumnya.
“Selama ini kita mengenal sebagai bangsa maritim, nenek moyang kita adalah pelaut, nilai-nilai ini yang dijaga dan kami apresiasi,” pungkas Ratno.***






