HALLOMAKASSAR.COM –Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Sulawesi DPP Partai Golkar, Muhidin M. Said, menanggapi santai pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang siap ‘mati-matian’ membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Pernyataan Jokowi disampaikan saat Rakernas PSI di Makassar, Sabtu, (30/1/2026).
Menurut Muhidin, langkah politik Jokowi merupakan hal yang wajar dalam dinamika demokrasi. Ia menegaskan, Partai Golkar tidak merasa terancam dan memilih fokus memperkuat partai sendiri.
“Itu biasa. Kita tidak usah pikirkan orang, kita pikirkan partai kita. Kita (Golkar) lebih besar dari (PSI),” ujar Muhidin.
Terkait spekulasi Jokowi turun langsung demi mempersiapkan PSI menghadapi Pemilu 2029 sekaligus mengusung kandidat pada Pilpres mendatang, Muhidin menilai hal itu sepenuhnya menjadi urusan internal PSI.
“Itu urusan dia. Kita juga siap. Kita kan sudah mendukung Prabowo Subianto. Melalui Rapimnas Golkar, sikap kita sudah jelas,” tegasnya.
Ia menambahkan, Golkar tetap konsisten pada garis dukungan politik yang telah diputuskan partai.
“Kalau ada yang mau maju, silakan. Tapi Partai Golkar tetap konsisten memperjuangkan Pak Prabowo bersama Gibran ke depan,” lanjut Muhidin.
Muhidin juga memastikan kehadiran Jokowi di PSI tidak dianggap sebagai ancaman politik bagi partainya. Ia menilai Golkar sebagai partai besar dan matang secara pengalaman.
“Tidak ada ancaman, itu hak dia. Masa yang begitu kita jadikan ancaman. Terlalu anulah buat Golkar. Golkar sudah berumur 61 tahun sejak berdiri tahun 1962, masa yang begitu kita mau takuti,” katanya.
Baca Juga:
Andi Amran Sulaiman Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Kembal IKA Unhas Periode 2026-2030
Pelantikan HDCI, Appi Tawarkan Makassar sebagai Pusat Touring Nasional di Sulawesi
Kolaborasi Lintas Sektor Aktif Sosialisasikan Pengelolaan Sampah Berbasis Warga Di 15 Kecamatan
Ia menyebut banyak tokoh yang kini berkiprah di PSI pernah beranuang di Golkar. Sehingga hubungan antarpartai tetap terjaga baik.
“Jangan lupa, hampir semua yang berkiprah di sana (PSI) itu mantan pernah belajar di Golkar. Jadi kita saling memahami. Kita hormati, itu hak dia. Dan mereka juga di sana tak ada masalah sama kita, kita tetap berkawan,” imbuh Muhidin.(*)







