HALLOMAKASSAR.COM –Penampilan Wali Kota Makassar, Munafri ‘Appi’ Arifuddin kembali mencuri perhatian dalam upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Lapangan Karebosi, Sabtu (2/5/2026).
Wali Kota dari Partai Golkar itu tampil mengenakan pakaian adat suku Toraja, pilihan yang bukan sekadar estetika, tetapi sarat makna.
Bagi Appi, busana tersebut merupakan simbol penghormatan terhadap keberagaman budaya di Sulawesi Selatan. Ia menegaskan bahwa identitas Toraja sebagai bagian dari kekayaan daerah patut diangkat ke ruang publik, termasuk dalam momentum resmi pemerintahan.
“Suku Toraja bagian dari Sulawesi Selatan, yang punya ciri khas luar biasa, berbeda dari lainnya, dan kita wajib mengangkat budaya-budaya kita di Sulsel,” tegasnya.
Pilihan mengenakan pakaian adat Toraja bukan kali pertama. Pada upacara 17 Agustus 2025 lalu, Appi juga tampil dengan busana serupa, baju adat Toraja berwana kuning dan ciri khas Passapu di kepala. Konsistensi ini memperlihatkan komitmennya dalam merawat simbol-simbol budaya sebagai bagian dari identitas kolektif masyarakat Makassar.
Di luar seremoni, pendekatan Appi terhadap keberagaman juga tampak dari intensitas kehadirannya dalam berbagai kegiatan komunitas Toraja.
Salah satunya saat menghadiri perayaan Paskah dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-XXIII Kebaktian Penyegaran Iman (KPI) oleh Gereja Toraja Jemaat Tamalanrea pada akhir April lalu. Kehadirannya, waktu itu, disambut hangat dan antusias oleh jemaat.
Ia menegaskan partisipasi pemerintah dalam kegiatan lintas agama merupakan bentuk nyata komitmen membangun kota yang inklusif.
“Kehadiran saya bukan secara pribadi, tapi memberikan gambaran bahwa Pemerintah Kota Makassar, benar-benar akan membangun kota ini dengan inklusif, melibatkan seluruh stakeholder dan seluruh elemen,” ujarnya.
Baca Juga:
Tanpa Penertiban, Warga Tamalanrea Bongkar Mandiri 6 Lapak di Atas Drainase
Bank Mandiri Perluas QR Antar Negara ke Tiongkok, Transaksi Luar Negeri Melonjak
Upaya tersebut bukan tanpa hasil. Pada 2025, Kota Makassar meraih Harmony Award dari Kementerian Agama RI—sebuah pengakuan atas keberhasilan menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
Penghargaan itu menjadi representasi bahwa ruang sosial di kota ini tetap terjaga inklusif di tengah keberagaman.
“Alhamdulillah 2025 lalu, Kota Makassar mendapat penghargaan karena nilai toleransi kita sangat baik di kota ini,” katanya.
Meski demikian, Appi mengingatkan inklusivitas bukan tujuan akhir, melainkan proses yang harus terus dirawat. Ia menekankan pentingnya nilai kebersamaan sebagai fondasi harmoni sosial dan pembangunan daerah.
Baca Juga:
GOTO Buka Suara Soal Potongan Aplikator Ojol Jadi 8 Persen
Optimisme Bupati Sidrap di MRS Celebes 2026: Dari Lokal Menuju Internasional
Pemkot Makassar Gandeng KPMI, Percepat Lahirnya Wirausaha Baru
“Yang membedakan kita cuma akidah. Tetapi untuk hidup bersama-sama, tidak ada yang bisa membatasi kita untuk hidup saling berdampingan, saling bergandengan tangan demi tujuan untuk membangun Kota Makassar yang kita cintai ini,” tutupnya. (*)







