HALLOMAKASSAR.COM – Pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan
disebut masih sehat. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Selatan mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2025 berada diangka 4,98 persen.
Angka ini mengalami penurunan jika dibanding kuartal l 2025 diangka 5,78 persen. Selain itu, berbanding terbalik dengan perekonomian nasional diangka 5,12 persen di kuartal II.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda dalam acara Bincang Bareng Media bertajuk “Perkembangan Ekonomi Sulsel Terkini dan Respon Kebijakan Bank Indonesia” menjelaskan perlambatan ekonomi menggiring PDRB Sulsel di posisi ke-22.
“Maluku Utara berada di posisi pertama, disusul Sulawesi Tengah dan Kepulauan Riau di posisi ke tiga. Sulawesi Selatan Diposisi ke 22 mengungguli Aceh, Sumatera Utara dan Kalimantan Timur,” jelasnya di Makassar, Selasa (26/8/2025).
Rizki mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi yang melambat disumbang oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor yang melambat di kuartal II 2025.
“Dari sisi Pengeluaran, Konsumsi Rumah Tangga pada Triwulan II 2025 melambat dibandingkan triwulan sebelumnya seiring dengan penurunan konsumsi rumah tangga pasca Idulfitri dan Ramadan. Komponen ekspor juga mengalami perlambatan sebesar 7,46 persen dibanding tahun sebelumnya diperiode yang sama . Meski demikian perlambatan tertahan oleh kinerja ekspor luar negeri yang mengalami perbaikan,” ungkapnya.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Sulsel masih ditopang lapangan usaha, sektor perdagangan, dan industri pengolahan.
Dari sisi Lapangan Usaha, yang pertama adalah sektor pertanian tumbuh 3,36 persen (yoy) pada Triwulan II 2025, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada di angka 15,73 persen.
“Ini sejalan dengan normalisasi periode panen yang kembali ke Maret – April, menyebabkan kontraksi produksi padi sebesar 6,27 persen dibanding tahun sebelumnya,” jelas Rizki.
Baca Juga:
Munafri Jamu Coach Darije, Semangat Kebangkitan PSM Makassar Kembali Menggelora
Kota Makassar Jadi Tuan Rumah Local Fest 2026, Siap Gaet 15 Ribu Pengunjung
Temui Kepala Staf Kepresidenan, BPP DOB Dorong Provinsi Luwu Raya Masuk Agenda Strategis Nasional
Pendukung lainnya, sektor perdagangan tumbuh lebih tinggi terindikasi dari kenaikan pertumbuhan penjualan kendaraan baru yang mencapai 11 persen atau 58 ribu unit.
Industri pengolahan juga mengalami peningkatan terutama pada industri mikro kecil, seperti industri makan minum, galian bukan logam, tekstil, kulit, kayu, dan furniture.
“Konstruksi juga menguat seiring peningkatan realisasi investasi di Sulsel sebesar 58 persen, terkonfirmasi dari peningkatan konsumsi semen di Sulsel naik 5,76 persen. Pertambangan juga meningkat sejalan dengan peningkatan produksi nikel matte sebesar 12 persen dibanding tahun lalu, dan gas alam yang meningkat 8,4 persen,” terang Rizki.
Kendati terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, Rizki mengimbau masyarakat tak perlu khawatir berlebih sebab angka tersebut masih terbilang aman.
Baca Juga:
Kembangkan Program P4GN, Kepala BNNP Sulsel Temui Ketua DPRD Sulsel
SJAM Hadirkan Program Loyalty Card, Servis Tiga Kali di Bengkel Resmi Yamaha Dapat Potongan
Meski terjadi penurunan, masyarakat tak perlu khawatir berlebihan sebab angka tersebut masih dikisarkan 4,9-5,1 persen.
“Jangan terlalu khawatir terkait perkembangan ekonomi, sebab jika flat juga ekonomi bisa mati. Selama pertumbuhan ekonomi dikisarkan 4,9-5,1 persen, maka perekonomian masih terbilang sehat,” tukasnya.
Lebih jauh Rizki mengajak masyarakat Sulsel terus optimis menghadapi kondisi perkembangan yang fluktuatif seperti saat ini.
“Tetap optimis, sebab kekhawatiran berlebih terhadap perekonomian bisa memengaruhi tindakan. Pertumbuhan ekonomi bisa turun, tetapi jangan turun-turun banget,” tandasnya. ***







