Bulog Akui Harga Beras Naik Signifikan 

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 7 Agustus 2025 - 07:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HALLOMAKASSAR.COM – Perum Bulog Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) mengakui terjadinya kenaikan harga beras. Empat faktor yang memicu kenaikan harga beras di wilayah Sulsel dalam beberapa pekan terakhir.

Hal ini disampaikan Pimpinan Wilayah Bulog Sulselbar, Fahrurozi, usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi B DPRD Sulsel, di Kantor DPRD Sulsel, Rabu, 6 Agustus 2025.

“Saat ini harga beras memang mengalami kenaikan cukup signifikan. Kami identifikasi ada empat faktor utama penyebabnya,” ujar Fahrurozi.

Ia menjelaskan, faktor pertama adalah berakhirnya masa panen raya. Menurutnya, Sulsel sebagai salah satu lumbung beras nasional baru akan memasuki panen berikutnya pada Agustus hingga September.

“Panen besar sudah selesai. Stok dari panen terakhir masih tersisa, tapi suplai dari petani mulai menurun. Kami harap panen Agustus bisa menstabilkan harga kembali,” jelasnya.

Faktor kedua, lanjut Fahrurozi, adalah munculnya isu-isu sensitif terkait perusahaan beras yang berdampak psikologis pada para pelaku usaha di sektor ini.

“Ada ketakutan dari produsen atau distributor. Mereka jadi ragu menyalurkan beras karena khawatir terseret isu hukum, ini ganggu distribusi di beberapa jalur,” ungkapnya.

Faktor ketiga adalah belum optimalnya distribusi program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan).

Bulog menilai, pendistribusian SPHP masih terfokus di perkotaan, dan belum merata menjangkau kecamatan hingga desa.

“Distribusi SPHP belum tembus ke lapisan paling bawah. Karena itu kami gandeng TNI dan Polri untuk perluas jangkauan,” ujar Fahrurozi.

Menurutnya, gerakan bersama SPHP akan dilakukan menyeluruh di Polsek, Koramil, Kodim, dan Polres sebagai upaya mempercepat pendistribusian beras dengan harga terjangkau ke masyarakat.

Faktor keempat adalah faktor teknis daya tahan dan kualitas beras yang berpengaruh pada pasokan pasar.

Meski Bulog memiliki cadangan 505 ribu ton beras di Sulsel, kualitas beras sebagai komoditas mudah rusak (perishable goods) sangat bergantung pada cara penyimpanan.

“Stok kami cukup untuk 50 bulan. Tapi beras ini tidak tahan selamanya. Idealnya maksimal dua tahun jika disimpan baik, setelah itu mutu bisa menurun,” jelasnya.

Fahrurozi menambahkan bahwa kualitas beras sangat tergantung pada kelembapan dan suhu gudang.

Bahkan untuk beras yang disimpan tiga bulan saja di rumah, menurutnya, bisa terjadi penurunan mutu jika tidak dirawat.

“Beras supermarket saja disimpan tiga bulan di rumah bisa turun mutunya. Apalagi kalau gudang tidak ideal, ini yang kami waspadai agar kualitas tetap terjaga saat didistribusikan,” ujarnya.

Bulog Sulselbar berharap masyarakat tetap tenang dan tidak panik menghadapi kenaikan harga saat ini.

Ketua Komisi B, Andi Irma Azizah Wahyudiati, menegaskan rapat ini digelar karena urgensi situasi yang ditemukan saat masa reses.

“Urgensinya karena kemarin kita habis reses, dan banyak temuan-temuan di lapangan. Bahkan sebelum reses pun, isu naiknya harga beras sudah sering kami dengar,” kata Andi Irma.

Ia menyoroti ironi yang terjadi, Sulawesi Selatan sebagai salah satu penghasil utama beras, justru mengalami lonjakan harga.

Menurutnya, hasil tinjauan dan penjelasan dari pihak Bulog dan Satgas Pangan menyebutkan beberapa faktor penyebab kenaikan, di antaranya naiknya harga gabah serta penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Sulsel lainnya, Suriadi Bohari, menjelaskan RDP ini telah direncanakan jauh-jauh hari atas desakan dari anggota DPRD lainnya yang rutin menyampaikan keluhan terkait lonjakan harga.

“Kita ingin tahu kenapa harga beras bisa melambung. Meskipun sekarang sudah mulai menurun karena distribusi beras pemerintah (CBP) dan panen yang terjadi pada pertengahan Juli lalu, keresahan masyarakat tetap harus direspons,” ungkap Suriadi.

Ia juga mengingatkan bahwa situasi di Sulsel bisa berbeda dengan daerah lain. “Kita mungkin surplus, tapi daerah lain bisa kekurangan. Tapi kondisi lokal tetap harus dijaga,” tandasnya. (*)

Berita Terkait

Herwyn: Rekam Jejak Pengawas Pemilu Perlu Dibangun dari Kinerja yang Terukur
Penjelasan Gubernur Sudirman Soal Jalan Rusak Ditanam Pohon
HKG PKK ke-54 Dipusatkan di Makassar, Tri Tito Karnavian Apresiasi Kader Sulsel
DPRD Gowa Tunda Sidang Pansus Hak Angket, Menunggu Jadwal Bupati Husniah
Laporan Bupati Gowa di Bareskrim Polri Dilimpah ke Polda Sulsel, Ini Alasannya
Ombudsman Sulsel – Kanwil Pemasyarakatan Perkuat Sinergi Pengawasan Pelayanan Publik
Bawaslu Sulsel Soroti Data Nihil Pemilih Baru dan Pemilih Meninggal di Sejumlah Daerah
Bone Juara Sepak Takraw Porsenijar Sulsel 2026, Puji Keramahan dan Pelayanan Sidrap

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:29 WIB

Herwyn: Rekam Jejak Pengawas Pemilu Perlu Dibangun dari Kinerja yang Terukur

Jumat, 10 Juli 2026 - 08:33 WIB

Penjelasan Gubernur Sudirman Soal Jalan Rusak Ditanam Pohon

Kamis, 9 Juli 2026 - 20:12 WIB

HKG PKK ke-54 Dipusatkan di Makassar, Tri Tito Karnavian Apresiasi Kader Sulsel

Kamis, 9 Juli 2026 - 09:25 WIB

DPRD Gowa Tunda Sidang Pansus Hak Angket, Menunggu Jadwal Bupati Husniah

Kamis, 9 Juli 2026 - 09:05 WIB

Laporan Bupati Gowa di Bareskrim Polri Dilimpah ke Polda Sulsel, Ini Alasannya

Berita Terbaru

Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna.

Nasional

Febrie Adriansyah Mundur dari Jabatan Jampidsus Kejagung

Sabtu, 11 Jul 2026 - 12:09 WIB