HALLOMAKASSAR.COM– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) prediksi El Nino di Sulawesi Selatan bakal berlangsung hingga 2027. Namun, kondisi tersebut tidak berarti Sulawesi Selatan akan mengalami kekeringan sepanjang tahun.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, mengatakan fenomena tersebut, lebih berpengaruh terhadap penurunan curah hujan di sejumlah wilayah ketika beririsan dengan musim hujan.
“Artinya, periode sampai dengan melintas tahun 2027 itu bukan berarti kekeringan sepanjang tahun itu, bukan. Tetapi ada kontribusi pengurangan jumlah curah hujan di lokasi-lokasi tertentu,” kata Nasrol, Selasa (29/9/2026).
Nasrol menjelaskan, El Nino tetap memberikan pengaruh terhadap curah hujan di Sulsel. Namun, fenomena tersebut beririsan dengan musim hujan, dampaknya lebih terlihat pada berkurangnya jumlah curah hujan, bukan menghentikan hujan sepenuhnya.
“Jadi irisannya, eliminasinya, fungsi eliminasinya itu ada pada pengurangan daripada curah hujannya. Tadi sudah diprediksi berapa milimeter pengurangan curah hujannya,” katanya.
Menurut Nasrol, beberapa wilayah dapat mengalami penurunan curah hujan akibat pengaruh El Nino. Wilayah yang biasanya mendapat curah hujan sekitar 50 milimeter, dapat mengalami penurunan menjadi sekitar 30 milimeter.
“Ada yang biasanya 30 milimeter pada saat musim keringnya menjadi 20 milimeter ke bawah atau diprediksi rendah. Nah, itu kontribusinya,” katanya.
Di sisi lain, sejumlah wilayah Sulsel diprediksi tetap mengalami curah hujan dengan kategori tinggi ketika memasuki musim hujan. Wilayah tersebut mencakup Makassar, Maros, Gowa, dan Takalar.
“Ada ilayah-wilayah yang sudah memasuki musim hujan yang kapasitasnya dari mulai menengah hingga tinggi. Tapi tidak sangat tinggi ya. Seperti di wilayah Makassar, Maros, kemudian Gowa, Takalar, itu memang sifatnya tinggi,” kata Nasrol.
Selain wilayah selatan, curah hujan tinggi juga diprediksi terjadi di sejumlah wilayah dataran tinggi dan bagian utara Sulsel. Toraja, Luwu, dan Luwu Timur termasuk wilayah yang diperkirakan mengalami sifat curah hujan tinggi.
Nasrol mengatakan kondisi curah hujan di Sulsel diproyeksikan mulai meningkat setelah memasuki periode musim hujan. Bahkan, pada Januari 2027 sebagian besar wilayah diperkirakan sudah menerima curah hujan di atas 100 milimeter.
“Kalau kita lihat dari proyeksi, di Januari saja kita sudah mendapatkan di atas 100 milimeter curah hujan. Semuanya hampir rata-rata di atas 100 milimeter,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan El Nino yang bertahan hingga 2027 tidak serta-merta membuat Sulsel mengalami kekeringan sepanjang tahun. Dampaknya lebih terlihat pada berkurangnya curah hujan di wilayah tertentu.
“Masuk musim hujan ini berhadapan dengan El Nino yang masih bertahan sampai 2027, tapi itu kan bagaimana pada dampaknya ketika berhadapan musim hujan dan El Nino,” katanya.
BMKG sebelumnya memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Sulsel mengalami keterlambatan sekitar dua hingga tiga dasarian. Namun, keterlambatan tersebut tidak berarti hujan tidak turun, melainkan berkaitan dengan pergeseran waktu dan perubahan jumlah curah hujan di sejumlah wilayah.(*)








