Oleh: Taqwa Bahar, Wakil Ketua Pemuda ICMI Sulsel
Toleransi bukanlah sesuatu yang lahir dari pidato semata. Ia tumbuh dari sikap, tindakan, dan konsistensi seorang pemimpin dalam merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun budaya.
Di Kota Makassar, upaya membangun harmoni antarumat beragama dan kelompok etnis tampak menjadi salah satu komitmen yang terus ditunjukkan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. Komitmen tersebut terlihat dari keaktifannya menghadiri berbagai kegiatan masyarakat lintas komunitas, mulai dari kegiatan masyarakat Toraja hingga komunitas Tionghoa. Rutinitas ini telah berjalan sejak dilantik awal Februari 2025 lalu.
Kehadiran seorang pemimpin di tengah masyarakat tentu memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar memenuhi undangan seremonial. Di balik itu terdapat pesan bahwa pemerintah hadir untuk semua warga. Ketika seorang wali kota menyempatkan diri hadir dalam perayaan budaya, kegiatan sosial, maupun momentum keagamaan dari berbagai kelompok masyarakat, maka yang dibangun bukan hanya hubungan emosional, tetapi juga rasa saling menghargai.
Makassar merupakan kota yang tumbuh dari keberagaman. Berbagai suku, etnis, dan agama hidup berdampingan serta berkontribusi dalam pembangunan daerah. Karena itu, menjaga toleransi membutuhkan konsistensi yang berkelanjutan.
Harmoni tidak tercipta dalam satu hari, melainkan melalui upaya yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.
Sikap yang ditunjukkan Munafri Arifuddin dapat dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat ruang kebersamaan tersebut.
Dengan membuka komunikasi dan menjalin kedekatan dengan berbagai komunitas, pemerintah kota mengirimkan pesan bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjarak, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang kerap muncul di berbagai daerah, Makassar membutuhkan teladan kepemimpinan yang mampu menjadi perekat keberagaman. Konsistensi dalam merangkul semua kelompok masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas sosial sekaligus memperkuat identitas Makassar sebagai kota yang toleran, inklusif, dan harmonis.
Maka dari itu, keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya hidup berdampingan dalam suasana damai. Dan harmoni seperti itu hanya dapat terwujud ketika toleransi tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi praktik yang dijalankan secara konsisten oleh seluruh elemen, terutama para pemimpinnya.







