HALLOMAKASSAR.COM – Yudisium FEB UNHAS menetapkan Helen Dias Andhini sebagai lulusan terbaik program doktor Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin.
Menyelesaikan studi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00, predikat cumlaude, dan masa studi 2 tahun 0 bulan serta 3 publikasi Scopus Q1 adalah kombinasi capaian yang jarang ditemukan pada satu orang di jenjang pendidikan tertinggi.
Di program doktor, IPK hanyalah satu sisi. Sisi lainnya adalah karya ilmiah dalam bentuk disertasi dan artikel. Proses penelitian panjang yang menuntut ketekunan merumuskan masalah, membangun model, mengumpulkan data, lalu mempertahankannya di hadapan para penilai. Publikasi atau artikel menjadi tantangan yang tidak bisa dianggap usaha yang ringan.
Tidak sekedar issu yang harus baru dalam ruang riset tetapi juga biaya publikasi serta proses korespondensi yang sangat melelahkan bagi peneliti yang tidak siap. Oleh karena itu, menuntaskan seluruh rangkaian itu dalam dua tahun, tanpa satu pun nilai di bawah sempurna, menunjukkan konsistensi yang tidak lahir dari kecerdasan semata, tetapi juga dari disiplin dan manajemen waktu yang ketat.
Menyusun Disertasi berjudul “Model Manajemen Krisis Strategis: Peran Mediasi Kesiapan Kelembagaan, Tata Kelola Kolaboratif, dan Pemulihan Pascabencana terhadap Ketahanan Berkelanjutan di Provinsi Sulawesi Tenggara.”
Helen memperlihatkan bahwa ilmu manajemen tidak berhenti di ruang korporasi. Krisis, termasuk bencana, pada dasarnya adalah persoalan organisasi, pengambilan keputusan, dan koordinasi, sehingga sah dibaca dengan perangkat analisis manajemen strategis.
Penelitian tersebut mengembangkan model yang menempatkan tiga issu sebagai mekanisme penghubung menuju ketahanan berkelanjutan. Pertama, kesiapan kelembagaan menguraikan apakah institusi daerah memiliki struktur, kapasitas, dan prosedur sebelum krisis datang.
Kedua, tata kelola kolaboratif tentang sejauh mana pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lain bergerak dalam satu arah, bukan berjalan sendiri-sendiri. Ketiga, pemulihan pascabencana yakni bagaimana daerah bangkit, bukan sekadar kembali ke kondisi semula.
Gagasan ini relevan bagi praktik penanggulangan bencana di daerah yang kerap terjebak pada logika tanggap darurat. Perhatian besar tercurah saat bencana terjadi, lalu surut ketika situasi mereda. Model yang ditawarkan Helen menggeser fokus ke hulu dan hilir bahwa ketahanan ditentukan oleh kesiapan institusi sebelum krisis dan kualitas pemulihan sesudahnya, sama pentingnya dengan respons di tengah krisis.
Latar belakang sebagai praktisi kebencanaan dan manajemen risiko, memperkuat alur dan proses pembahasan karya tulisnya. Bagi Helen, bencana memang tidak pernah menjadi urusan satu bidang. Bencana menyentuh kesehatan, ekonomi, tata kelola, dan kehidupan sosial sekaligus.
Bagi Helen, predikat lulusan terbaik tidak dimaknai sebagai keunggulan atas orang lain, melainkan sebagai cermin proses panjang untuk terus bertumbuh dan menjadi lebih baik dari dirinya sendiri. “Predikat terbaik bagi saya bukan berarti saya lebih hebat dari orang lain. Saya memaknainya sebagai proses menjadi lebih baik dari diri saya sebelumnya. Seluruh perjalanan di Universitas Hasanuddin telah membentuk saya, bukan hanya secara akademik, tetapi juga dalam cara berpikir, kedisiplinan, dan keberanian melihat masa depan,” ujar Helen.
Pandangan ini membawa pesan yang patut digarisbawahi bagi pendidikan pascasarjana khususnya program doktor. Ukuran keberhasilan studi doktor bukan hanya angka di transkrip, melainkan perubahan cara berpikir, kemampuan bertanya secara tajam, menimbang bukti, dan berani menawarkan gagasan untuk masa depan.
Helen juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan FEB Universitas Hasanuddin, promotor, ko-promotor, seluruh tim penguji, para dosen, keluarga, sahabat, serta semua pihak yang telah mendukungnya. Ucapan ini sekaligus pengingat bahwa disertasi yang baik lahir dari ekosistem akademik yang sehat: bimbingan yang serius, pengujian yang ketat, dan dukungan yang konsisten.
Seusai menyelesaikan pendidikan doktoral, Helen berharap ilmu dan pengalamannya dapat memberi kontribusi nyata bagi penguatan kebijakan publik, manajemen krisis, penanggulangan bencana, dan pembangunan daerah, khususnya di Sulawesi Tenggara. Harapan ini menempatkan disertasinya bukan sebagai akhir, melainkan titik awal dalam berpikir dan bertindak akademis.
Model yang telah diuji secara akademik kini menunggu untuk diterjemahkan menjadi perbaikan kelembagaan, mekanisme koordinasi, dan rencana pemulihan yang lebih matang di tingkat daerah.(*)








