Kebijakan  Kurikulum Muatan Lokal Wali Kota Makassar: Apresiasi dan Catatan Kritis Akademisi Unismuh

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 23 September 2025 - 13:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Kasman, S.Pd.,M.Pd,
Akademisi Unismuh Makassar, Anggota Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

 

APAKAH kita masih sering melihat anak-anak menyapa guru dengan salam hormat, membantu orang tua tanpa disuruh, atau berbicara dengan santun kepada orang yang lebih tua? Pertanyaan sederhana ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai sopan santun kini kian tergerus di tengah derasnya arus digitalisasi.

Di era media sosial, kebebasan berekspresi sering kali melampaui batas etika, sehingga pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda.
Menjawab kegelisahan ini, langkah Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang menggagas kurikulum muatan lokal bagi siswa SD dan SMP patut diapresiasi. Kebijakan ini diharapkan menjadi solusi untuk mengembalikan nilai budaya, sopan santun, dan etika yang mulai memudar.

Namun, apresiasi ini perlu diikuti dengan pandangan kritis. Sebagai akademisi dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, kami memandang bahwa kebijakan ini masih memerlukan penguatan agar implementasinya tidak berhenti pada tataran wacana atau sekadar formalitas.

Catatan Kritis atas Kurikulum Muatan Lokal
Kritik pertama berangkat dari karakter khas Kota Makassar yang multikultural. Kehidupan sosialnya terbentuk oleh keberagaman etnis seperti Makassar, Bugis, Toraja, dan Enrekang. Jika kurikulum muatan lokal tidak dirancang secara inklusif, ada risiko sebagian peserta didik merasa terasing atau mengalami cultural dissonance.

Karena itu, muatan lokal perlu memberikan ruang bagi identitas kultural semua siswa agar mereka merasa diakui dalam proses belajar.
Selain inklusivitas, kurikulum harus disusun berbasis riset dan kebutuhan nyata masyarakat. Ia tidak boleh berhenti pada simbolisasi budaya semata, melainkan menjawab tantangan sosial-ekonomi daerah.

Misalnya, pengenalan kewirausahaan berbasis potensi lokal bisa menjadi sarana agar siswa mampu memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya. Dengan begitu, pembelajaran lebih relevan dan berdampak langsung pada kehidupan mereka.

Tantangan lainnya adalah kesiapan guru. Hingga kini, belum ada pengampuh khusus muatan lokal dan pelatihan guru masih terbatas. Tanpa kompetensi dan materi ajar yang memadai, kurikulum ini berpotensi dijalankan sekadar memenuhi kewajiban administratif. Akibatnya, tujuan awal untuk memperkuat identitas kultural bisa meleset.

Solusi yang Ditawarkan

Untuk menjawab tantangan tersebut, strategi yang komprehensif perlu diterapkan. Kurikulum muatan lokal sebaiknya dimulai dari lingkungan terdekat anak, menjadikan sekolah sebagai penguat nilai-nilai yang telah ditanamkan keluarga atau komunitas. Dengan demikian, pendidikan karakter akan selaras antara rumah dan sekolah.

Pengembangannya juga perlu menerapkan pendekatan diversifikasi dengan memperhatikan potensi daerah, keunggulan sekolah, serta bakat dan minat siswa. Implementasi kurikulum tidak harus dibatasi pada mata pelajaran formal, melainkan bisa diperluas melalui kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan sehari-hari, dan budaya sekolah.

Selain itu, pelibatan para pemangku kepentingan harus dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan tokoh masyarakat dapat membantu memperbarui kurikulum, memberikan pelatihan guru, dan menyediakan sumber daya yang diperlukan.

Akhirnya, kebijakan kurikulum muatan lokal Wali Kota Makassar menjadi langkah penting dalam memperkuat identitas budaya dan membangun karakter generasi muda. Dengan pelaksanaan yang inklusif, berbasis riset, dan didukung oleh kolaborasi pemerintah, sekolah, orang tua, serta komunitas, Makassar berpotensi melahirkan generasi cerdas, beretika, dan berbudaya. Menyatu dalam keragaman, beragam dalam kesatuan.

Berita Terkait

Socio-technopreneurship, Resolusi Tahun Baru
Makassar Memilih Hijau
Menakar Tahun Pertama Kepemimpinan MULIA di Makassar
Pilkada Via DPRD: Jangan Korbankan Kedaulatan Rakyat
Menakar Arah Persampahan Kota Makassar
Under Invoicing dan Kedaulatan Ekonomi Indonesia
Kepemimpinan di Tingkat RW : Refleksi Pesta Demokrasi Akar Rumput
Makassar, The City of Open Minds: Menyambut 418 Tahun Kota Daeng

Berita Terkait

Jumat, 2 Januari 2026 - 10:30 WIB

Socio-technopreneurship, Resolusi Tahun Baru

Kamis, 1 Januari 2026 - 11:41 WIB

Makassar Memilih Hijau

Rabu, 31 Desember 2025 - 09:06 WIB

Menakar Tahun Pertama Kepemimpinan MULIA di Makassar

Selasa, 30 Desember 2025 - 10:18 WIB

Pilkada Via DPRD: Jangan Korbankan Kedaulatan Rakyat

Senin, 22 Desember 2025 - 09:07 WIB

Menakar Arah Persampahan Kota Makassar

Berita Terbaru

Olahraga

TVRI Bebaskan UMKM Gelar Nobar Gratis Piala Dunia 2026

Senin, 19 Jan 2026 - 09:27 WIB

Sulawesi Selatan

Pemerintah Evaluasi Pencarian Korban Pesawat ATR 42-500 di Maros

Senin, 19 Jan 2026 - 08:29 WIB