HALLOMAKASSAR.COM — Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, buka suara menanggapi insiden viral di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang melibatkan seorang pedagang sayur dan seorang oknum TNI terkait pemasangan bendera anime One Piece di mobil. Ia menilai peristiwa ini tidak perlu ditanggapi secara berlebihan.
Menurut Willy, tindakan sang pedagang adalah bentuk ekspresi biasa, bukan tindakan makar ataupun subversif. Ia menyayangkan adanya reaksi berlebihan dari oknum aparat terhadap ekspresi warga sipil seperti itu.
“Ini sebuah ekspresi yang biasa-biasa saja, bahkan pak Presiden sudah statement soal ini. Kalau ada respons berlebihan, ini yang keliru,” tegas Willy Aditya.
Ia menambahkan, masyarakat harus diberi ruang untuk berekspresi selama tidak melecehkan simbol negara. Kebebasan tersebut adalah bagian penting dari demokrasi yang sehat.
“Kita anggap ini kan tidak makar, tindakan ekspresi yang biasa saja. Jangan ditanggapi berlebihan, proporsional aja,” ujarnya.
Politisi dari Partai NasDem itu mengingatkan bahwa kritik terhadap pemerintah tidak selalu berarti sentimen terhadap negara. Menurutnya, banyak masyarakat keliru dalam menyalurkan rasa kecewa, yang seharusnya ditujukan kepada pemerintah, namun sering kali diarahkan ke simbol negara.
“Orang memiliki rasa kecewa, marah, sejauh tidak melecehkan simbol-simbol negara fine-fine saja,” katanya.
“Memang ada yang fundamental, keliru di kita, kritik kita salah alamat. Kita marah pada pemerintah lalu negara yang disalahkan. Di dalam teori demokrasi itu negaranya stabil, pemerintahan silih berganti,” tambahnya.
Willy bahkan menyarankan agar Indonesia bisa meniru semangat patriotisme negara lain seperti Turki, yang mampu menjaga nasionalisme warganya meskipun pemerintahan berganti-ganti.
Baca Juga:
Sinergi ATR/BPN, dan KPK, Munafri Hadiri Rakor Perkuat Reformasi Pertanahan
PKB Gelar UKK ke – II untuk Calon Ketua DPC, Ini Tujuannya
Perkuat Kelembagaan, Sekretariat Bawaslu Sulsel Tekankan Integritas dan Profesionalisme
“Dalam konteks ini kita bisa belajar dari pengalaman Turki. Politik itu dinamis, pemerintahan datang dan pergi, tapi spirit patriotisme kita kemudian harus tetap berdiri,” jelasnya.
“Turki luar biasa bendera negara mereka, setiap rumah, diaspora mereka, kita bisa belajar dari Turki dalam konteks ini,” sambungnya.
Ia pun menilai tindakan menampar dan menyita bendera bergambar Jolly Roger ala One Piece yang dilakukan oknum TNI adalah bentuk reaksi berlebihan. Ia meminta aparat untuk lebih bijak menyikapi ekspresi warga.
“Jadi ini sebuah kritik, ungkapan kemarahan, salah alamat, dan juga direspons secara reaksioner oleh beberapa orang,” imbuhnya.
Baca Juga:
Gubernur Sulsel Usul Skema Modal Tanpa Bunga, IKA Unhas Jadi Motor Penggerak
Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026, Munafri-Aliyah Tekankan Kolaborasi Jadi Kunci Utama Hadapi Bencana
Pesan Wali Kota Appi ke JCH Makassar: Luruskan Niat, Jaga Kesehatan
Sementara itu, pihak TNI telah mengonfirmasi bahwa pria dalam video viral tersebut adalah anggota aktif Kodim 1410 Bantaeng. Komandan Sub Denpom XIV/1-2 Bantaeng, Letda Cpm Agus Subiantoro, menyatakan bahwa insiden ini telah diselesaikan secara damai.
“Iya memang betul yang bersangkutan adalah anggota Kodim Bantaeng,” kata Agus.
“Sudah damai itu. Pasintel Kodim Bantaeng sudah ketemu juga dengan korban dan keluarganya. Semisal belum damai pun kami dari Denpom siap untuk memproses,” jelasnya.
Hal senada disampaikan oleh Pasintel Kodim 1410 Bantaeng, Lettu Inf Harfil, yang turut memastikan bahwa mediasi antara kedua belah pihak telah dilakukan dengan hasil damai.
“Sudah damai. Ada surat perjanjian damai antara anggota kami dan korban,” katanya.
Harfil menjelaskan bahwa kejadian tersebut dipicu oleh kesalahpahaman yang terjadi saat korban, seorang pedagang sayur bernama Pardi, hendak mengantarkan dagangannya ke pasar.
Baca Juga:
ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”
Hisense Berkolaborasi dengan “Phantom Blade Zero”, Hadirkan Pengalaman Gim RGB Generasi Baru
Hikvision Umumkan Kinerja Keuangan Periode 2025 dan Triwulan I-2026
“Ada salah paham itu. Kami juga sudah mengimbau kepada anggota agar tidak melakukan tindakan yang tidak diinginkan kepada masyarakat,” katanya.
Peristiwa ini pertama kali dibagikan oleh akun Facebook bernama Dhandy Thoriq, yang mengaku sebagai kakak korban. Dalam unggahannya, ia menyebut bahwa adiknya dihadang oleh pria berbaju kuning berhelm hitam yang mengaku sebagai aparat karena memasang bendera One Piece di mobil.
“Kronologinya adalah adik saya atas nama Pardi lagi bawa sayur jualannya ke pasar Bantaeng, terus tiba-tiba dihadang oleh bapak yang pakai baju kuning helm hitam, yang mengaku aparat entah POLISI ATAU TNI,” tulis Dhandy.
“Si bapak bertanya bendera apa itu di mobilmu, karena kebetulan adik saya itu penggemar film anime yang judulnya ONE PIECE. Lanjut terus adik saya menjawab ‘bendera anime pak’, terus si bapak bertanya lagi, kau warga negara apa. Belum sempat adik saya jawab, langsung ditampar sama si bapak itu yang mengaku aparat,” lanjutnya.
Dalam video yang beredar, pria tersebut terlihat mencabut bendera dari mobil dan melontarkan peringatan kepada korban, sementara istri dan anak korban yang berada di dalam mobil tampak ketakutan dan merekam kejadian tersebut.
“Naliat jka istriku pak ditampar, ada juga adekku,” ujar sang pedagang dengan nada emosi khas Makassar.
“Kalau kau merasa keberatan silakan lapor ke polisi,” jawab pria tersebut, yang justru menantang korban.
“Bukan peringatan itu, tapi pukul di tempat,” timpal korban.
“Pokoknya benderamu saya sita. Karena kita dalam keadaan sekarang 17 Agustus. Bukan kibarkan bendera One Piece, tapi bendera kita merah putih. Makanya kita patroli kiri kanan cari bendera begini (One Piece). Masih mendingan, daripada saya naikkanko ke media,” ucap pria tersebut lagi.
Istri korban yang masih merekam pun menyahut, “Kita juga kunaikkanki itu di media kalau langsungki menampar begitu.”
“Kalau anda keberatan saya siap, karena saya juga sebagai anggota. Karena ini saya ada lagi saya dapat, saya cari lagi pelakunya,” lanjut pria itu.
“Coba tadi bicara baik-baik ki, tapi langsungki kasih turun itu benderayya,” ujar sang istri menyesalkan sikap kasar tersebut.
“Okelah okelah, saya minta maaf kalau begitu, tapi jangan kau ulangi lagi,” ujar pria itu akhirnya melunak.
“Oke begitu seharusnya kita bilang pak, jangan diulangi, bukan langsung ditampar kodong,” balas sang pedagang.
“Minta maafki kalau ditampar tawwa, gampang sekali itu,” sahut seorang warga yang ikut menyaksikan kejadian.
“Coba ditanya baik-baik, kita kasih turun dengan baik-baik,” sambung istri korban.
Di akhir video, pria tersebut akhirnya mengembalikan bendera One Piece milik pedagang sayur dan menyatakan insiden tersebut sebagai pelajaran bersama.
Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi dari Mabes TNI atau pihak kepolisian terkait status pasti pria dalam video, meskipun Kodim Bantaeng telah menyatakan kasus ini telah diselesaikan secara damai. (*)







