HALLOMAKASSAR.COM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar memiliki alasan kuat menghadirkan program Jelajah Sampah yang menyasar seluruh kecamatan dalam satu bulan. Program ini lahir dari persoalan kompleks yang dihadapi Kota Makassar, terutama penumpukan sampah di TPA Antang.
“Makassar sudah darurat sampah. Rata-rata setiap warga menghasilkan hampir 1 kilogram sampah per hari. Kalau dikalikan dengan populasi yang bisa mencapai dua juta jiwa pada siang hari, kita menghasilkan 800 hingga 900 ton sampah setiap hari,” kata Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, dikutip dari Unhas TV, Sabtu (6/12/2025).
Angka tersebut membayangi TPA Antang—lokasi pembuangan akhir Kota Makassar—yang kini menyimpan lebih dari 3 juta ton sampah dengan tumpukan setinggi 20 meter di atas lahan seluas 19 hektare.
Maka dari itu, kata Helmy, Pemerintah Kota secara resmi menetapkan target, Makassar Bebas Sampah 2029. Bebas sampah bukan berarti tanpa sampah sama sekali, tetapi kota yang mampu memilah, mengolah, dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan.
Sasaran utama gerakan ini bukan truk, bukan mesin pencacah, bukan pula regulasi, melainkan manusia.
“Kuncinya ada pada perilaku,” ujarnya.
Sebuah konsep yang bukan baru, tetapi penerapannya di lapangan terbukti tidak mudah.
Karena itu, Jelajah Sampah menyasar generasi muda mulai siswa SD hingga mahasiswa.
“Kalau anak mudanya sudah bergerak, kita lebih mudah menggerakkan yang tua,” ujar pria kelahiran 15 Mei 1984 itu.
Program ini dirancang seperti petualangan ekologis. Warga diajak melihat langsung bagaimana sampah dipilah, bagaimana bahan organik dapat menjadi kompos, bagaimana plastik dapat memiliki nilai ekonomi, hingga bagaimana residu yang tidak terolah akhirnya berakhir di TPA. (*)
Baca Juga:
Komisi B DPRD Sulsel – Pemkab Barru Bahas DBH Pembiayaan BPJS Kesehatan
Lewat Diplomasi Budaya dan Kuliner, Wali Kota Makassar Bidik Investasi dari 28 Negara
Wali Kota Munafri Promosikan Potensi Makassar di Hadapan Delegasi dari 28 Negara pada IGS 2026







