Kualitas Udara di Makassar Tidak Sehat Efek Karhutla di Kalimantan

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HALLOMAKASSAR.COM – Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kalimantan sudah berimbas ke daerah lain. Termasuk Kota Makassar, udaranya ikut terdampak.

Peringatan ini diperkuat dari informasi kualitas udara BMKG Wilayah IV Makassar yang diperbarui pada 9 Oktober 2026 pukul 10.45 WITA. Konsentrasi PM2.5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, tercatat mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dengan kategori TIDAK SEHAT.

Meski pengukuran tersebut berasal dari Maros dan bukan pengukuran langsung di seluruh wilayah Kota Makassar, kondisi ini menjadi pengingat bahwa masyarakat di Makassar dan kawasan sekitarnya perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan polusi udara.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, M. Fadli Tahar, mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan penurunan kualitas udara dan mengambil langkah perlindungan sejak dini.

Fadli Tahar menekankan, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas, termasuk ketika ancaman tidak terlihat secara langsung.

“Jangan menunggu sampai mengalami sesak napas untuk mulai melindungi diri. Ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas di luar ruangan, gunakan masker yang sesuai jika harus keluar, dan lindungi anak-anak serta anggota keluarga yang rentan,” kata Fadli dalam keterangannya, Senin, (12/10/2026).

Menurut Fadli, kewaspadaan terhadap kabut asap perlu dibangun melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi BMKG dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Penurunan kualitas udara dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pembakaran terbuka, serta pergerakan angin yang membawa partikel dari wilayah lain.

Adapun penjelasan BMKG, asap dari Kalimantan berpotensi terbawa menuju Sulawesi Selatan ketika kondisi angin mendukung. Pergerakan angin dari arah timur juga dapat memungkinkan asap dari kawasan Papua dan Maluku mencapai wilayah Sulawesi Selatan.

Selain itu, kebakaran lahan di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan dapat turut menjadi sumber partikulat. Namun, besarnya kontribusi setiap sumber terhadap kondisi udara di Kota Makassar harus dipastikan melalui analisis resmi BMKG.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak terburu-buru menyimpulkan asal kabut asap hanya berdasarkan penampakan visual. Pemantauan kualitas udara, arah angin, dan informasi kebakaran dari instansi berwenang tetap menjadi acuan utama.

Fadli Tahar mengingatkan bahwa anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat asma, penyakit paru-paru, dan gangguan jantung perlu mendapat perhatian khusus ketika kualitas udara menurun.

Berdasarkan Informasi BMKG, bahwa 10 Oktober 2026 kualitas udara di Makassar, Maros, Gowa, dan sekitarnya berpotensi berada pada kategori sedang hingga tidak sehat sampai sekitar 13 Oktober 2026, terutama pada pagi hingga menjelang siang. Kondisi aktual dapat berubah mengikuti cuaca, arah angin, dan sumber emisi sehingga masyarakat perlu mengikuti pembaruan terbaru dari BMKG.

“Keselamatan dimulai dari kewaspadaan. Lindungi diri, lindungi keluarga, dan jangan menambah polusi melalui pembakaran terbuka,” imbuh Fadli.

Berikut poin imbauan BPBD Kota Makassar

• Mengurangi aktivitas berat di luar ruangan ketika udara berkabut atau kualitas udara dilaporkan memburuk.
• Menggunakan respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat jika harus beraktivitas di luar ruangan dalam kondisi berasap.
• Melindungi anak-anak dan lansia dari paparan asap, serta membatasi kegiatan luar ruangan jika kondisi udara tidak mendukung.
• Menjaga udara di dalam rumah tetap bersih, menutup pintu dan jendela ketika asap berada di luar jika kondisi dalam ruangan lebih baik, serta menghindari sumber asap di dalam rumah.
• Tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan api, karena pembakaran terbuka menambah polusi udara.
• Memantau informasi resmi BMKG untuk mengetahui perkembangan kualitas udara dan kondisi cuaca.
• Segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, atau gejala yang memburuk.

Berita Terkait

Wali Kota Appi Berikan Solusi bagi PKL Terdampak Penertiban, 1.500 Pedagang Didata Dapat KUR
Di Forum PBB, Wali Kota Appi Perkenalkan Inovasi Hijau Makassar untuk Atasi Banjir
Kadis Kominfo Makassar Paparkan Inovasi Lontara+ dan Command Center di Forum Kota Cerdas Kemendagri
Prihatin Kabut Asap di Makassar, Appi Instruksikan Dinas Bagi Masker Gratis ke Siswa dan Kelompok Rentan
Kesra Makassar Matangkan Persiapan Hari Santri 2026, Libatkan Pesantren dan Sekolah Islam
Kokurikuler Berbasis Lingkungan, SMPN 34 Makassar Produksi 100 Kilogram Kompos Eco-Nangka 34
Wali Kota  Appi Paparkan Program Unggulan Makassar Creative Hub di Forum PBB Jenewa
Sekda Makassar Minta Camat-Lurah Validasi Data 559.967 Warga, Pastikan Bansos Tepat Sasaran

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:58 WIB

Wali Kota Appi Berikan Solusi bagi PKL Terdampak Penertiban, 1.500 Pedagang Didata Dapat KUR

Rabu, 14 Oktober 2026 - 05:10 WIB

Di Forum PBB, Wali Kota Appi Perkenalkan Inovasi Hijau Makassar untuk Atasi Banjir

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:28 WIB

Prihatin Kabut Asap di Makassar, Appi Instruksikan Dinas Bagi Masker Gratis ke Siswa dan Kelompok Rentan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Kesra Makassar Matangkan Persiapan Hari Santri 2026, Libatkan Pesantren dan Sekolah Islam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Kokurikuler Berbasis Lingkungan, SMPN 34 Makassar Produksi 100 Kilogram Kompos Eco-Nangka 34

Berita Terbaru