HALLOMAKASSAR.COM – Universitas Hasanuddin (UNHAS) menggelar diskusi publik bertajuk “SPPG UNHAS: Laboratorium MBG untuk Gizi Bangsa” . Acara ini berlangsung di Redaksi Harian Fajar Lantai 4 Graha Pena, Makassar, Kamis, (4/6/2026).
Diskusi ini menghadirkan jajaran akademisi dan pakar lintas disiplin ilmu dari UNHAS untuk mengupas kontribusi program Satuan Pelayanan Makanan Bergizi (SPPG) serta kesiapan laboratorium Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam mendukung peningkatan kualitas gizi nasional.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber ahli, yakn, Prof. dr. Veny Hadju, Msc., PhD
(Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS & Tim Ahli SPPG Tamalanrea 14 UNHAS), Prof. Dr. Mursalim Nohing, SE. MM
(Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNHAS & Pakar Manajemen Keuangan), Prof. Dr. Syahdar Baba, S.Pt., MSi
(Dekan Fakultas Peternakan UNHAS).
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. dr. Veny Hadju, M.Sc., Ph.D., menilai Program MBG memiliki peran penting dalam menanamkan pemahaman tentang pola makan sehat, bergizi seimbang, dan beragam kepada anak-anak sejak usia dini.
Sebagai Tim Ahli Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamalanrea 14 Unhas, Prof. Veny menjelaskan menu MBG telah disusun berdasarkan standar yang ditetapkan sehingga mampu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik.
“Kan BPOM sudah punya standar, ya. Standar menu, standar apa yang terpenuhi untuk ee untuk yang ee standar yang kecukupan gizi ya yang ada. Memang kalau untuk orang dewasa itu pemenuhan itu 25 sampai 30% itu sepertigalah, jadi kecukupan pemenuhan eeu gizi setiap hari, ya. Begitu juga untuk, itu sudah dihitung semuanya. Jadi, energinya, karbohidrat, proteinnya, mikronya. Itu ada ada aturan-aturannya,” kata Prof. Veny.
Menurut dia, program tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong keberagaman pangan yang selama ini masih menjadi tantangan di Indonesia.
Ia mencontohkan, masyarakat masih sangat bergantung pada nasi sebagai sumber karbohidrat, padahal tersedia berbagai alternatif pangan lokal lainnya.
“Artinya, seperti kita lihat, untuk sumber karbohidrat kan paling banyak adalah selalu nasi, padahal tidak harus selalu nasi, ya. Ada jagung, ada umbi-umbian, ya, ada sagu dan sebagainya. Ini harusnya divariasikan,” katanya.
Begitu pula dengan konsumsi sayuran dan protein hewani yang perlu lebih beragam.
“Kemudian, kalau sayur ya, itu ya kadang-kadang juga tidak tidak bervariasi atau bahkan menu sayur itu bahkan dianggap sesuatu pelengkap saja, padahal sayur ini menjadi satu unsur yang sangat penting untuk kesehatan manusia dan seterusnya,” jelasnya.
Prof. Veny menilai MBG menjadi sarana edukasi yang efektif karena anak-anak dapat melihat dan mengonsumsi langsung contoh makanan sehat secara rutin.
” Ini generasinya seperti itu, menanamkan makan yang sehat itu seperti ini. Harus lengkap, jumlahnya juga cukup, ya, dan bervariasi, ya. Nah, ini mau ditanamkan sejak kecil,” katanya.
Ia berharap pemahaman tentang gizi seimbang dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah pedesaan yang masih memiliki persepsi sederhana mengenai makanan sehat.
“Nah, kita lihat kan di desa-desa tuh sekarang ini kan banyak desa-desa itu sudah ada kecukupan pemenuhan buah-buahan ada, sayur-sayuran ada, tapi persepsi masyarakat itu kalau makan yang cukup nasi, tempe saja, nasi, ikan saja. Itu orang ditanya, Kenapa tidak makan sayur? Karena menanamkan persepsi bahwa makan lengkap itu seperti ini agak sulit karena mereka sudah terbiasa makan itu cuma ini termasuk desa-desa yang ee ekonominya, pendidikannya rendah ya seperti itu,” ungkapnya.
Karena itu, ia optimistis program MBG dapat membantu memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang.
“Sehingga sekarang insyaallah dengan program dari BPOM ini ya walaupun belum seluruh nusantara, kena ya, tapi diharap kan penanaman nilai-nilai nilai-nilai makanan yang bergizi, makanan yang dengan gizi seimbang, keterpenuhan semua zat gizi yang lengkap, yang padahal itu juga nanti bisa, kita bisa akses dengan baik, dengan mudah di sini ke masyarakat, ini akan mudah terpenuhi dan insyaallah merata di seluruh wilayah nusantara,” tuturnya.
Sementara Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof. Dr. Syahdar Baba, mengungkapkan dirinya pernah dipercaya menjadi Ketua Kelompok Kerja (Pokja) yang menyusun strategi keterlibatan Unhas dalam program MBG.
Menurut Prof. Syahdar, keterlibatan Unhas dirancang secara menyeluruh dengan memanfaatkan potensi dari 17 fakultas yang dimiliki kampus tersebut.
“Dari seluruh aspek. Karena Unhas itu kan 17 fakultas kita dan sangat holistik sehingga sangat besar peluang untuk berkontribusi di program ini. Sebagaimana kita ketahui program ini kan anggarannya demikian besar, sayang kalau tidak dilaksanakan dengan tepat dan benar,” katanya.
Ia menjelaskan, setelah SPPG berdiri, Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa beberapa kali mengumpulkan para dekan, terutama fakultas yang berkaitan dengan penyediaan pangan seperti Fakultas Peternakan, Pertanian, Teknologi Pertanian, dan Perikanan.
“Kalau untuk penyediaan pangannya kan peternakan, pertanian, teknologi pertanian, perikanan, itu selalu hadir. Selalu kami diwajibkan hadir,” tuturnya.
Salah satu tugas yang diberikan adalah merancang model rantai nilai dari hulu hingga hilir agar mampu menyuplai kebutuhan pangan bagi SPPG Unhas dengan nilai tambah yang lebih baik.
“Eh, salah satu amanah dari beliau itu adalah bagaimana masing-masing fakultas mendesain dari hulu. Rantai nilai produk ini untuk bisa menyuplai eh ke SPPG Unhas. Kaitannya dengan eh bagaimana membuat sebuah model eh rantai nilai ini yang memang punya nilai lebih dibanding yang lainnya,” jelasnya.
Menurut Prof. Syahdar, salah satu fokus utama Fakultas Peternakan adalah komoditas telur yang menjadi kebutuhan besar dalam program makan bergizi.
“Nah, akhirnya kami dari Fakultas Peternakan sudah menyusun beberapa hal. Salah satu yang paling urgen itu kan yang paling banyak itu adalah kaitannya dengan telur. Namun kalau hanya menyediakan telur kan, telur dari Sidrap, dari mana, sudah cukup banyak. Nah, kami ditugaskan oleh Pak Rektor untuk membuat sebuah inovasi,” katanya.
Ia menjelaskan inovasi yang dilakukan dimulai dari tingkat peternakan dengan melakukan intervensi pada pakan dan sistem produksi guna menghasilkan telur dengan kualitas yang lebih baik.
“Bagaimana telur yang sampai nanti di SPPG Unhas ini adalah telur yang memiliki nilai lebih yang berdasarkan hasil-hasil riset yang dilakukan oleh teman-teman. Akhirnya kami mendesain itu sejak dari farm. Kebetulan di kami peternakan itu kan kami punya mitra peternak yang sangat banyak. Kami mendesain dari hulu. Eh artinya ada intervensi terkait dengan pakan, ada intervensi terkait dengan kualitas eh eh pakan yang lebih eh istilahnya ada ada feed suplement lah yang diberikan sehingga kualitas telur yang dihasilkan itu adalah lebih baik lagi,” ujarnya.
Selain aspek produksi, fakultas juga mempertimbangkan faktor harga agar tetap sesuai dengan ketentuan program.
“Karena ada ada mereka punya aturan harga, Prof, yang harus kita ikuti sambil kita coba intervensi. Disitulah peran Fakultas Peternakan hasil-hasil riset teman-teman diakomodasi, di diimplementasi di level peternak untuk menghasilkan sebuah produk yang lebih bagus sehingga bisa menyuplai SPPG pada skala ekonomi yang lebih eh bagus. Itu tugas yang pertama,” katanya.
Di sisi lain, Fakultas Peternakan juga mengembangkan program edukasi untuk menumbuhkan empati siswa terhadap para produsen pangan.
“Tugas yang kedua eh Bapak Ibu sekalian, eh saya sebagai dekan, salah satu tugas yang paling berat di Fakultas Peternakan itu adalah eh bagaimana membuat anak-anak ini eh linkage dengan peternakan, kebanggaan terhadap peternakan itu menjadi lebih baik, Prof,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu keunggulan program makan bergizi adalah kemampuannya membangun karakter dan penghargaan terhadap proses produksi pangan.
“Nah, eh ada beberapa model yang kami coba setelah kita studi literatur dan segala macam. Salah satu kelebihan eh eh makanan bergizi ini eh intervensi makanan bergizi ini adalah selain intervensi gizi, juga ada intervensi menanamkan eh apa ya? Empati siswa kepada seluruh produsen-produsen pangan ini,” jelasnya.
Ia mencontohkan praktik yang diterapkan di Jepang, di mana petani dan peternak diperkenalkan kepada siswa untuk menjelaskan proses produksi pangan.
“Seperti kalau di Jepang, mereka punya kelas reguler yang meng apa? Apakah petaninya yang dihadirkan, peternaknya dihadirkan di depan kelas atau videonya ditampilkan untuk memberitahu kepada mereka bahwa pangan ini diproduksi tidak dengan mudah. Mati. Sehingga empati mereka terhadap eh eh peternak, terhadap pertanian itu semakin bagus,” katanya.
Menurut Prof. Syahdar, pendekatan tersebut berkontribusi dalam membentuk karakter siswa agar lebih menghargai makanan dan tidak menyia-nyiakannya.
“Sehingga kami di peternakan saat ini, selain tadi mendesain rantai nilai, kami pun sudah mulai mendesain riset-riset yang nanti akan eh paling tidak untuk mitra-mitranya Unhas ini, eh siswa-siswa yang jadi mitranya Unhas ini, kita berikan eh tambahan pengetahuan bagaimana sih sistem produksi peternakan pangan ini supaya empati mereka terhadap dunia peternakannya semakin bagus,” imbuhnya.







