Ruang Pintar di Lorong Sungai Cerekang: Menanam Harapan dari Ruang Sempit Kota

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 24 April 2026 - 21:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mashud Azikin (Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar)

Di sebuah lorong di Jalan Sungai Cerekang, Kelurahan Gaddong, Kecamatan Bontoala, Makassar, siang itu tidak ada yang tampak luar biasa jika dilihat sepintas. Lorong sempit, rumah-rumah berdempetan, dan riuh suara warga yang menjalani rutinitas harian. Namun, jika melangkah sedikit lebih dalam, ada sesuatu yang pelan-pelan sedang tumbuh—sebuah ruang kecil bernama Ruang Pintar.

Di sanalah anak-anak duduk belajar, ibu-ibu berkumpul, dan para tokoh masyarakat berdiskusi tentang masa depan lingkungan mereka. Kunjungan bersama Fadly Padi siang tadi (Jum’at, 24 April 2026) menjadi lebih dari sekadar agenda. Ia menjelma menjadi pertemuan gagasan—antara realitas lorong yang padat dengan harapan akan perubahan yang berkelanjutan.

Ruang Pintar yang diinisiasi oleh PNM hadir bukan sebagai bangunan megah, melainkan sebagai ruang hidup. Ia lahir dari kesadaran sederhana: bahwa keterbatasan ruang tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi pertumbuhan. Di lorong inilah, pendidikan menemukan bentuknya yang paling jujur—dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam diskusi bersama Ketua RT/RW dan warga, Fadly Padi mengangkat gagasan yang terasa sangat kontekstual: menghubungkan program Ruang Pintar dengan gerakan Tanami Tanata’ serta kebijakan Wali Kota Makassar tentang pengolahan sampah terintegrasi dengan urban farming. Gagasan ini bukan sesuatu yang muluk, justru sebaliknya—ia berangkat dari apa yang tersedia di depan mata.

Lorong, yang selama ini identik dengan keterbatasan, mulai dibayangkan sebagai ruang produksi: tempat belajar, tempat mengolah sampah, sekaligus tempat menanam. Di sinilah perubahan cara pandang menjadi kunci. Sampah tidak lagi dilihat sebagai beban, tetapi sebagai bahan baku. Lahan sempit tidak lagi dianggap kekurangan, tetapi peluang.

Ruang Pintar, dalam konteks ini, menjadi simpul penting. Ia bukan hanya tempat anak-anak belajar membaca dan berhitung, tetapi juga tempat masyarakat belajar memahami siklus hidup yang lebih luas. Bagaimana sisa dapur bisa diolah menjadi kompos, bagaimana kompos bisa menyuburkan tanaman, dan bagaimana tanaman bisa kembali memberi nilai ekonomi bagi keluarga.

Ada sesuatu yang menarik dari dinamika di lorong ini: perubahan tidak datang dari luar, tetapi dirumuskan bersama. PNM hadir dengan programnya, pemerintah kota dengan kebijakannya, dan komunitas dengan pengalamannya. Ketiganya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mengisi.

Namun, seperti banyak inisiatif berbasis komunitas, tantangan terbesar bukan pada memulai, tetapi menjaga nyala. Ruang Pintar membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas—ia membutuhkan komitmen. Dibutuhkan pendamping yang konsisten, partisipasi warga yang berkelanjutan, dan sistem yang mampu menjaga ritme kegiatan tetap hidup.

Tanpa itu, ruang ini bisa saja kembali menjadi lorong biasa—sunyi dari aktivitas belajar, kehilangan energi kolektif yang hari ini mulai terasa.
Tetapi siang tadi memberi alasan untuk optimisme.
Di tengah keterbatasan, warga masih mau duduk bersama, berdiskusi, dan membayangkan masa depan yang lebih baik. Anak-anak masih datang untuk belajar. Ibu-ibu masih bersedia mencoba hal baru. Dan tokoh-tokoh lokal masih percaya bahwa perubahan, sekecil apa pun, layak diperjuangkan.

Ruang Pintar di lorong Jalan Sungai Cerekang mengajarkan satu hal penting: bahwa kota tidak selalu dibangun dari proyek besar, tetapi dari inisiatif kecil yang konsisten. Dari lorong-lorong yang sering luput dari perhatian, justru bisa lahir model perubahan yang paling relevan—karena ia tumbuh dari kebutuhan nyata.

Di lorong sempit itu, masa depan tidak dibicarakan dengan istilah yang rumit. Ia hadir dalam bentuk yang sederhana: anak yang belajar, sampah yang diolah, dan tanaman yang mulai tumbuh.
Dan mungkin, dari situlah kota menemukan harapannya kembali.

Berita Terkait

Dari Limbah Pasar Menjadi Berkah Biru
BELLIGERENT ATTITUDE: Tajam Mengeritik, Tumpul Mengoreksi Diri
IHSG dan Harga Sebuah Kepercayaan
Dua Tahun Prabowo–Gibran: Menjaga Stabilitas, Memperkuat Fondasi
Appi dan Logika Personal Kapital
Tetap Tenang Ketika Ada yang Ingin Menjatuhkanmu
Euforia pendidikan gratis: Menimbang janji, menghitung ongkos
Jika Penjara Bisa Terasa Mewah, Masihkah Hukuman Memiliki Efek Jera?

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:41 WIB

Dari Limbah Pasar Menjadi Berkah Biru

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:22 WIB

BELLIGERENT ATTITUDE: Tajam Mengeritik, Tumpul Mengoreksi Diri

Minggu, 25 Oktober 2026 - 06:37 WIB

IHSG dan Harga Sebuah Kepercayaan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:41 WIB

Dua Tahun Prabowo–Gibran: Menjaga Stabilitas, Memperkuat Fondasi

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Appi dan Logika Personal Kapital

Berita Terbaru