HALLOMAKASSAR.COM– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar mencatat jumlah pengungsi korban banjir mencapai 239 kepala keluarga (KK).
“Jumlah warga mengungsi akibat banjir saat ini berjumlah 878 jiwa dari 239 KK,” kata Kepala BPBD Makassar, Muhammad Fadli, dalam keterangan tertulis dikutip Kamis, (26/2/2026).
Update data pengungsi menunjukkan terdapat 4 kelurahan di 2 kecamatan yang terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai 80 sentimeter. Kelurahan yang terdampak meliputi Kelurahan Katimbang dan Paccerakkang di Kecamatan Biringkanaya, serta Kelurahan Batua dan Manggala di Kecamatan Manggala.
Kondisi ini dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah Sulawesi Selatan sejak beberapa hari terakhir.
Saat ini, tim BPBD masih terus melakukan pemantauan serta asesmen di lokasi terdampak banjir untuk memastikan keselamatan warga. Hingga Rabu malam, para pengungsi telah menempati 15 titik lokasi pengungsian yang telah disiapkan oleh pemerintah kota.
Sebelumnya, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem di Sulawesi Selatan yang berlangsung hingga 1 Maret 2026.
Peringatan ini dikeluarkan menyusul meningkatnya potensi curah hujan tinggi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan pada akhir Februari 2026. Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer, terdapat kombinasi aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Rosbi, serta konvergensi angin yang mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif di wilayah Sulsel.
BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Parepare, Barru, Pangkajene Kepulauan, Maros, Makassar, Gowa, Takalar, dan Kepulauan Selayar.
Sementara itu, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Luwu Utara, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Bone, Sinjai, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba.
Selain hujan lebat, potensi angin kencang juga diperkirakan terjadi di wilayah Sulawesi Selatan bagian barat dan selatan.
BMKG mengimbau masyarakat agar mewaspadai gelombang tinggi di perairan sekitar Sulawesi Selatan. Gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di Perairan Pinrang, Barru, Makassar, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Kepulauan Selayar, Bulukumba, Kepulauan Takabonerate, serta Jeneponto.
Wilayah yang masuk dalam peringatan dini meliputi Kota/Kabupaten Parepare, Barru, Pangkajene Kepulauan, Maros, Makassar, Gowa, Takalar, Kepulauan Selayar, Luwu Utara, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Bone, Sinjai, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba.
Menyikapi kondisi tersebut, para pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat di Sulawesi Selatan diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, dan gelombang tinggi.
Kesiapan infrastruktur dan tata kelola sumber daya air perlu dipastikan, termasuk penataan lingkungan yang baik, penghijauan, serta pemangkasan dan penguatan pohon agar tidak mudah roboh. Masyarakat juga diimbau tidak membuang sampah sembarangan, menjauhi lokasi terdampak, serta aktif memantau informasi dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG dengan memperkuat koordinasi antar pihak terkait.(*)








