BRI Beri Ruang Setara bagi Penyandang Disabilitas di Sulsel, Beri Pelatihan dan Pemagangan

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 4 September 2026 - 07:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HALLOMAKASSAR.COMSebagai bentuk komitmen nyata terhadap kesetaraan dan inklusivitas, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli kembali menegaskan perannya dalam memberdayakan masyarakat melalui gerakan #BRISahabatDisabilitas.

Program Pelatihan dan Pemagangan Disabilitas Administrasi dan Kewirausahaan ini diselenggarakan di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan, guna membekali para penyandang disabilitas agar memiliki kemandirian finansial serta kesiapan optimal menghadapi dunia kerja maupun wirausaha.

Puncak dari rangkaian pembekalan ini ditandai dengan dilaksanakannya Inagurasi Pelepasan Pemagangan BRI Sahabat Disabilitas Makassar 2026 pada Kamis, 3 September 2026.

Momentum ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus penanda dimulainya perjalanan para peserta untuk menerapkan keterampilan yang telah diperoleh dari pelatihan daring dan luring pada akhir Agustus 2026 lalu.

Setelah acara inagurasi, para peserta terpilih yang berasal dari wilayah Makassar, Gowa, Takalar, Maros, dan Pangkep akan langsung mengikuti tahapan pemagangan mulai 4 September hingga 4 November 2026. Dalam program pemagangan ini, para peserta ditempatkan secara nyata di berbagai sektor usaha, baik UMKM maupun perkantoran.

Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) PT BRI, Dinne Shovia Tresna Amalia, mengatakan BRI menjalankan program pelatihan dan pemagangan bagi sahabat disabilitas sebagai upaya membuka kesempatan yang lebih luas di dunia kerja.

“Pelatihan dan pemagangan untuk sahabat disabilitas, di mana BRI akan merekrut teman-teman disabilitas untuk bisa mengikuti pelatihan. Pelatihan ini terdiri dari administrasi perkantoran, kemudian cara berwirausaha,” kata Dinne.

Menurutnya, peserta terlebih dahulu mendapatkan pelatihan secara daring maupun luring. Setelah itu, mereka akan disalurkan untuk mengikuti program pemagangan selama tiga bulan di sejumlah perusahaan maupun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Dan setelah mendapatkan pelatihan, baik secara online maupun offline, mereka akan disalurkan untuk mengikuti pemagangan di beberapa perusahaan maupun UMKM selama 3 bulan,” ujarnya.

Dinne berharap program tersebut dapat memberikan bekal keterampilan sekaligus pengalaman kerja bagi penyandang disabilitas. Bahkan, peserta berpeluang untuk melanjutkan bekerja di tempat mereka menjalani pemagangan.

“Jadi diharapkan dengan bekal pelatihan dan juga pemagangan, ini teman-teman bisa mendapatkan pengalaman bekerja dan juga dimungkinkan misalkan untuk terus bisa bekerja di perusahaan tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, program tersebut juga diharapkan membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk berwirausaha sesuai dengan keterampilan masing-masing.

Menurut Dinne, penyandang disabilitas menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih agar memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh akses pekerjaan maupun pengembangan usaha.

“Karena penyandang disabilitas ini merupakan salah satu golongan, mungkin ya, yang mungkin selama ini belum terlalu kita. harus kita ekstra memberikan perhatian gitu, supaya mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi kekurangannya,” tuturnya.

“Tapi banyak, semua pihak juga ikut membantu supaya mereka juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama seperti semua masyarakat, seperti itu,” lanjut Dinne.

Dinne menjelaskan, program tersebut memiliki durasi pelatihan selama tiga bulan yang kemudian dilanjutkan dengan pemagangan selama tiga bulan.

“Pelatihannya ini 3 bulan, dan juga pemagangannya selama 3 bulan,” katanya.

Program pelatihan dilaksanakan secara offline maupun online dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta.

Materi yang diberikan antara lain administrasi perkantoran, manajemen, mindset berwirausaha hingga cara menjalankan usaha.

“Pelatihannya ada pelatihan terkait dengan administrasi perkantoran, manajemen, kemudian mindset berwirausaha, cara-cara berwirausaha, seperti itu,” ungkapnya.

Untuk memastikan materi yang diberikan berkualitas, BRI melibatkan instruktur dan tenaga ahli yang berpengalaman di bidangnya.

“Yang melatih dari instruktur-instruktur dari tenaga ahli yang berpengalaman. Jadi di sini kita rekrut beberapa pengajar khusus untuk bisa mengajarkan ilmu-ilmu yang memang dari pakarnya,” jelas Dinne.

Dinne mengatakan program pelatihan dan pemagangan bagi penyandang disabilitas bukan program baru. BRI telah menjalankannya sejak 2021 di berbagai wilayah di Indonesia.

“Jadi untuk program pelatihan dan pemagangan ini sudah kita lakukan dari tahun 2021 di berbagai wilayah di Indonesia,” katanya.

Khusus di Sulawesi Selatan, program tersebut mendapat antusiasme dan dukungan yang tinggi. Tahun ini menjadi pelaksanaan yang hampir memasuki tahun ketiga di wilayah tersebut.

“Dan kebetulan di Provinsi Sulawesi Selatan ini memang sangat antusias dan sangat support ya, sehingga sudah hampir tahun ketiga kita lakukan,” ujarnya.

Dinne berharap program tersebut dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak penyandang disabilitas yang mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan, bekerja maupun mengembangkan usaha.

“Dan mudah-mudahan kedepannya bisa semakin banyak sahabat disabilitas yang bisa kita kembangkan, dan juga bisa semakin berkembang baik dari pekerjaan maupun kewirausahaannya,” tambahnya.

Untuk pelaksanaan tahun ini, sebanyak 90 peserta mengikuti program dalam satu batch. Sementara secara keseluruhan, jumlah peserta program tersebut telah mencapai hampir 400 orang.

Peserta tidak hanya berasal dari Kota Makassar, tetapi juga dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Untuk lokasi pemagangan, peserta ditempatkan di berbagai sektor, mulai dari perusahaan, instansi pemerintah, perusahaan lainnya hingga UMKM binaan BRI.

“Jadi macam-macam ya, ada yang dari di perusahaan. di instansi pemerintah pun ada, kemudian di perusahaan lain, ataupun di UMKM binaan BRI pun ada, gitu,” kata Dinne.

Menariknya, peserta juga mendapatkan uang saku selama menjalani program pemagangan.

“Dapat, dapat. Tentu saja, mereka mendapatkan semacam gaji ya untuk apa pemagangan ini. Jadi memang sudah paket pelatihan, pemagangan, dengan diberikan uang saku,” jelasnya.

Berikut saya rapikan menjadi berita dengan fokus pada apresiasi Pemprov Sulsel dan peran Gubernur sebagai pelopor pemberian kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.

Sementara, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Sulawesi Selatan, Jayadi Nas, mengatakan program tersebut sejalan dengan komitmen Pemprov Sulsel dalam memberikan kesempatan yang sama bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pekerjaan.

“Ya, pertama, tentu kami dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada BRI yang telah membuat program BRI Peduli dengan kegiatan BRI Sahabat Disabilitas,” kata Jayadi.

Menurutnya, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman menjadi salah satu kepala daerah yang lebih awal melakukan terobosan dalam memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk bekerja di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

“Bapak Gubernur sesungguhnya adalah gubernur yang pertama di Indonesia yang telah membuat suatu terobosan tentang bagaimana mengakomodasi saudara-saudara kita sahabat disabilitas untuk diberi peluang kerja di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Jayadi mengatakan, kebijakan tersebut telah dilakukan Pemprov Sulsel sejak sekitar empat tahun lalu. Menurutnya, langkah tersebut memiliki keterkaitan erat dengan program BRI Peduli yang saat ini turut memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi mereka.

“Dan itu jauh sekitar 4 tahun yang lalu kita sudah lakukan, dan ini sangat beririsan dengan apa yang menjadi program yang luar biasa dari BRI, BRI Peduli, untuk membantu kita semua,” katanya.

Ia menilai, program tersebut penting untuk memastikan seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang setara dalam mengembangkan talenta dan potensi yang dimiliki.

“Paling tidak memberikan suatu ruang yang sama kepada seluruh warga negara kita tanpa kecuali, termasuk sahabat disabilitas, untuk mendapatkan ruang untuk mengekspresikan talenta dan potensi yang telah dimilikinya untuk mendapatkan yang namanya kesempatan kerja, sama dengan kesempatan bagi yang lainnya,” tutur Jayadi.

Lebih lanjut, Jayadi mengaku terharu melihat perubahan yang dialami para peserta setelah mengikuti pelatihan yang diberikan BRI.

Menurutnya, pelatihan tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga mampu meningkatkan kepercayaan diri para penyandang disabilitas untuk memasuki dunia kerja.

“Yang kedua, kita tentu terharu bahwa dari hasil pelatihan yang telah dilakukan oleh pihak BRI, itu kita bisa lihat tadi. Orang yang awalnya tidak percaya diri, tiba-tiba dia bisa bangkit dan percaya diri bahwa Saya sama dengan Anda semua, saya juga berhak untuk mendapatkan pekerjaan,” ungkapnya.

Jayadi berharap para penyandang disabilitas yang telah mendapatkan pelatihan dapat terus mengembangkan kemampuan dan memberikan kontribusi terbaik di dunia kerja maupun bidang lainnya.

“Dan inilah yang sebenarnya yang kita harapkan. Dan saudara-saudara kita kaum disabilitas ini insyaallah akan memberikan yang terbaik, dan ini adalah suatu terobosan yang luar biasa,” katanya.

Ia kembali menegaskan komitmen Gubernur Sulsel dalam membuka ruang yang setara bagi penyandang disabilitas.

“Dan sekali lagi, Bapak Gubernur kita adalah salah satu gubernur yang sebagai pelopor di dalam bagaimana menginisiasi program di dalam memberikan ruang yang sama kepada kaum disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan dan membangkitkan semangat mereka bahwa dia tidak boleh berkecil hati, banyak kita semua hadir untuk melakukan itu,” tegas Jayadi.

“Makanya terima kasih BRI yang telah memberikan program yang luar biasa,” pungkasnya.(*)

Berita Terkait

81 Peserta  Ikut Sertifikasi Pembimbing Haji Kemenhaj Kolaborasi UIN Alauddin
KAHMI Sulsel Uji Gagasan Masa Depan Hubungan Pusat dan Daerah
Tahapan Pilrek UNM Dimulai
Jelang Pelantikan dan Rakerprov, Hasbi Syamsu Ali Ungkap Filosofi Gateball dan Arah Baru PERGATSI Sulsel
KAHMI Sulsel Akan Gelar Diskusi Publik, Bahas Partai Politik dan Masa Depan Otonomi Daerah
Eko Hadi Sujiono dan Jejak Kolektif Menara Pinisi UNM
Dari Belanda ke Makassar, Pelajaran Riset yang Dibawa Pulang Prof Eko Hadi Sujiono
MTBN 2026 Tuntaskan Jelajah Nusantara di Toraja, Eksplore Budaya Hingga Peringati HUT RI di Lembah Ollon

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 16:43 WIB

81 Peserta  Ikut Sertifikasi Pembimbing Haji Kemenhaj Kolaborasi UIN Alauddin

Jumat, 4 September 2026 - 07:01 WIB

BRI Beri Ruang Setara bagi Penyandang Disabilitas di Sulsel, Beri Pelatihan dan Pemagangan

Kamis, 3 September 2026 - 18:28 WIB

Tahapan Pilrek UNM Dimulai

Kamis, 3 September 2026 - 09:47 WIB

Jelang Pelantikan dan Rakerprov, Hasbi Syamsu Ali Ungkap Filosofi Gateball dan Arah Baru PERGATSI Sulsel

Kamis, 3 September 2026 - 07:33 WIB

KAHMI Sulsel Akan Gelar Diskusi Publik, Bahas Partai Politik dan Masa Depan Otonomi Daerah

Berita Terbaru

Politik

SOKSI Dorong Penguatan Kaderisasi dari Kalangan Muda

Sabtu, 5 Sep 2026 - 17:28 WIB