Oleh: Dr. Hj. Yana Fajriah, SE, MM
(Kaprodi PPs MM & Dosen PPs MM STIEM Bongaya)
Dalam dunia bisnis yang kompetitif dan penuh dinamika saat ini, organisasi dituntut memiliki arah yang jelas agar tetap bertahan, relevan, dan unggul. Arah ini diwujudkan melalui pernyataan visi, misi, dan tujuan perusahaan. Ketiganya menjadi fondasi dalam proses perumusan strategi, karena memberikan arah, makna, dan standar evaluasi kinerja organisasi (Pearce & Robinson, 2017).
Manajemen strategi modern tidak hanya menekankan pada analisis lingkungan eksternal, tetapi juga pada pemahaman yang mendalam terhadap nilai-nilai dasar internal, di mana visi dan misi menjadi identitas utama perusahaan.
Visi adalah gambaran masa depan ideal yang ingin dicapai perusahaan, sedangkan misi merupakan penjabaran tentang peran perusahaan di masyarakat, termasuk produk, pasar, dan nilai-nilai yang dijunjung (David & David, 2020).
Sementara itu, tujuan strategis adalah target terukur yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu, sebagai bentuk konkret dari visi dan misi (Wheelen, Hunger, Hoffman, & Bamford, 2018). Penentuan visi, misi, dan tujuan yang tepat akan membantu organisasi dalam mengarahkan sumber daya, mengomunikasikan prioritas, dan menciptakan konsistensi dalam pengambilan keputusan strategis.
Relevansi dalam Era Disrupsi, di era transformasi digital dan disrupsi bisnis, revisi terhadap visi dan misi menjadi penting agar tetap sesuai dengan dinamika eksternal.
Misalnya, banyak perusahaan teknologi kini menambahkan komitmen terhadap keberlanjutan (sustainability) dalam misinya, mencerminkan kesadaran terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial (Kotler & Keller, 2021).
Organisasi yang adaptif pada level strategis cenderung lebih siap menghadapi perubahan lingkungan dan kompetisi yang ketat.
Konteks dan implementasi dapat dilihat pada contoh kasus PT Telkom Indonesia. PT Telkom Indonesia adalah contoh perusahaan nasional yang secara konsisten merevisi visi dan misinya untuk menyesuaikan dengan arah transformasi digital.
Visi Telkom saat ini adalah “Menjadi perusahaan telekomunikasi digital pilihan utama untuk memajukan masyarakat Indonesia”, sedangkan misinya mencakup penyediaan layanan ICT yang inovatif dan berkelanjutan.
Visi dan misi ini menjadi dasar pengembangan strategi digital seperti peluncuran platform MyIndiHome, PaDi UMKM, hingga penguatan konektivitas nasional melalui Telkom Infra.
Kesalahan umum dan dampaknya: visi dan misi yang tidak realistis dan terlalu umum, serta tidak mencerminkan kondisi internal perusahaan dapat menimbulkan kebingungan dalam implementasi strategi.
Misalnya, beberapa UMKM sering kali menyalin visi dan misi dari perusahaan besar tanpa memahami konteks dan kapasitas mereka, sehingga strategi yang dijalankan menjadi tidak relevan (Fitriani, 2022).
Oleh karena itu, proses penyusunan visi dan misi harus partisipatif, kontekstual, dan selaras dengan analisis lingkungan internal dan eksternal sebuah organisasi.
Implikasi terhadap SDM dan budaya organisasi: visi dan misi bukan hanya sekadar dokumen, tetapi harus diinternalisasi dalam budaya organisasi. Hal ini memengaruhi pola rekrutmen, sistem penghargaan, hingga pengembangan kompetensi karyawan.
Seperti dijelaskan oleh Barney & Hesterly (2019), kejelasan tujuan strategis dapat meningkatkan keterlibatan karyawan dan memperkuat keunggulan kompetitif berbasis sumber daya manusia.







