HALLOMAKASSAR.COM –Periode kepemimpinan Taufan Pawe sebagai Ketua Golkar Sulsel telah berakhir pada 19 November 2025. Itu berdasarkan SK Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar atas kepengurusan Golkar Sulsel periode 2020 – 2025. Hanya saja DPP belum menunjuk Pelaksana Tugas (Plt).
Meski begitu, penantang kuat Taufan Pawe di musyawarah daerah (Musda) Golkar Sulsel mulai bermunculan. Paling menarik, hadirnya Wali Kota Makassar, Munafri ‘Appi’ Arifuddin yang mendapat dukungan besar dari para pemilik suara.
Meski berstatus penantang, tetapi mayoritas dukungan DPD Kabupaten/Kota telah memantapkan dukungan kepada Appi ketimbang Taufan Pawe yang menyandang status petahana.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham mengatakan,
Pelaksanaan Musda Partai Golkar Sulsel menjadi atensi DPP. Alasannya, Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia menginginkan Sulsel kembali menjadi lumbung suara beringin.
Maka dari itu, Idrus Marham menegaskan, pengisian Plt Golkar Sulsel segera dilakukan.
“Sulawesi Selatan itu jadi perhatian dari Pak Ketua Bahlil karena ini adalah lumbung Golkar. Jadi Pak Bahlil ingin kembali merebut kemenangan di Pemilu 2029. Jika sudah masa berakhir, tentu akan ada pelaksana tugas turun,” kata
Idrus Marham di Makassar, Senin, (17/11/2025) lalu.
Sementara Sekretaris Golkar Sulsel, Marzuki Wadeng menyebut pihaknya masih menunggu SK pemberhentian masa kepengurusan dari DPP.
“Iya akan berakhir tanggal 19 (November) nanti. Biasanya kalau berakhir pasti ada Plt. Tergantung SK-nya,” kata Marzuki belum lama ini.
Menurut Marzuki, tugas Plt Ketua Golkar Sulsel akan menyiapkan tahapan Musyawarah Daerah (Musda). Ia berharap pelaksanaan Musda dilakukan sebelum akhir tahun 2025.
Baca Juga:
Pelajari Konsep Revitalisasi Blok M Jakarta, Appi Rancang Wajah Baru Pasar Sentral Lebih Modern
Fieldtrip Bilingual Class SDIT Darul Fikri Makassar ke Leang-Leang Maros Berjalan Sukses
Saiful Jihad Tekankan Pentingnya Akurasi – Validitas Data Pemutakhiran PDPB
“Tugasnya menyiapkan Musda secepatnya. Kita harap dilakukan secepatnya, sebelum akhir tahun, agar konsolidasi organisasi tetap jalan. Sebenarnya kita sudah siap gelar Musda tapi sampai sekarang belum ada jadwal dari DPP,” bebernya.
Sejumlah pihak menilai, rekam jejak Munafri Arifuddin menahkodai Golkar Makassar menjadi modal besar untuk bertarung di Musda Golkar Sulsel.
Di mana, rekam jejak mantan CEO PSM Makassar itu menunjukkan kapabilitas kuat untuk membawa kembali kejayaan partai beringin di Sulawesi Selatan.
Itu tidak lepas dari capaian Golkar Makassar pada Pemilu Legislatif 2024 sebagai bukti konkret.
Baca Juga:
Pemkot Makassar Benahi Wajah Terminal, Tiga Kawasan Disulap Lebih Tertata dan Estetis
Penuh Haru! Bupati Sidrap Lepas JCH dari Rujabnya, Jumlahnya Naik 3 Kali Lipat
Wali Kota Makassar Ultimatum Kepsek: Perpisahan Berbayar di Sekolah, Terancam Dicopot
Di bawah kepemimpinan Munafri Arifuddin, Golkar menjadi peraih suara tertinggi di DPRD Makassar dengan 97.209 suara, mengungguli NasDem yang memperoleh 94.756 suara. Hanya saja, Golkar meraih enam kursi, sementara NasDem memperoleh delapan kursi.
Sementara di era kepemimpinan Taufan Pawe, Golkar Sulsel mengalami kemunduran. Kursi ketua DPRD Sulsel lepas dari beringin pada Pileg 2024 lalu. Itu baru pertama kali terjadi sejak era reformasi.
Tidak hanya dikenal sebagai figur yang aktif menggerakkan roda Golkar Makassar, Appi juga membuktikan ketangguhannya melalui berbagai momentum politik, termasuk pertarungannya di Pilwali Makassar.
Setelah bertahun-tahun Golkar tak mampu mendudukkan kadernya di posisi Wali Kota, Appi justru menjadi tokoh yang mengembalikan kejayaan itu pada Pilkada Serentak 2024 lalu. Bahkan Appi turut maju caleg DPRD Provinsi Sulsel dan terpilih di 2024.
Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Adi Suryadi Culla, menilai
Munafri Arifuddin memiliki peluang kuat untuk memimpin DPD I Golkar Sulawesi Selatan pada pelaksanaan Musyawarah Daerah.
“Saya melihat merebutakan kursi DPD I Golkar Sulsel cukup menarik. Pak Appi layak jadi nahkoda,” jelas akademisi Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas itu.
Baca Juga:
Peringati Hari Kartini, Camat Ujung Pandang: Saatnya Perempuan Tunjukkan Kualitas
Munafri-Aliyah: Aspirasi Masyarakat dari Reses DPRD, Segera Ditindaklanjuti
“Pak Appi memiliki rekam jejak, kompetensi, dan pengalaman politik yang cukup matang untuk menakhodai Golkar Sulsel kedepannya,” lanjutanya.
Selain itu, Adi menyebutkan, dukungan 17 DPD II Golkar kabupaten/kota menjadi modal signifikan yang memperkuat posisi Appi di arena musda nanti.
Ia menilai, dukungan riil dari pemilik suara inilah yang ia nilai sebagai salah satu faktor penentu dalam kontestasi kepemimpinan Golkar Sulsel. Meskipun jalanya Musda tergantung keputusan DPP Golkar.
“Kalau saya melihat, pak Appi ini sudah terbiasa menghadapi ombak politik. Reputasinya tidak diragukan,” tuturnya.
“Kalau pun ada pihak yang meragukan, itu hanya gimik dari pihak lain yang ketakutan. Tidak akan menggoyahkan niatnya maju di Golkar. Ini sudah menjadi habitus politik,” tambah akademisi kampus ternama itu.
Ia menjelaskan pergeseran dukungan atau aliansi di tubuh Golkar bisa membuat peta persaingan berubah. Dalam situasi demikian, Appi adalah figur yang tidak bisa diabaikan.
“Jika terjadi pergeseran aliansi dukungan, Appi menjadi salah satu figur yang sangat diperhitungkan. Dia punya pengalaman, basis kuat, dan kapasitas yang teruji,” tegansya.
Ia menilai latar belakang Munafri yang sukses memimpin Golkar Makassar, menjadi indikator kuat bahwa Appi mampu membawa Golkar Sulsel kembali bangkit dan berjaya.
Appi yang juga mantan Bos PSM Makassar itu, disebut memiliki rekam jejak bertarung dan membuktikan diri di tingkat lokal melalui keterpilihannya sebagai Wali Kota Makassar dan kepemimpinannya dalam mengangkat kembali perolehan kursi Golkar pada Pemilu 2024.
“Pak Appi bukan hanya punya kompetensi, tapi juga punya pengalaman bertarung yang nyata. Basis massanya kuat. Ia mampu membawa Golkar bangkit di Makassar, dan itu bisa menjadi modal memajukan Golkar Sulsel ke depan,” jelasnya.
Adi Suryadi juga menyinggung aspek kedekatan Appi dengan tokoh-tokoh nasional seperti Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, yang pernah bersama dalam struktur HIPMI Pusat.
Relasi ini disebut sebagai variabel penting dalam dinamika internal partai. Selain itu, kedekatan Appi dengan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) juga dinilai menambah kekuatan politiknya.
“Soal dukungan DPD II Golkar, itu modal besar bagi Appi. Dukungan tersebut riil dan datang dari pemilik suara yang menentukan. Apalagi ada kedekatan historis dengan tokoh elit nasional seperti JK dan Bahlil,” terang Adi.
Tka hanya itu, lanjutanya, secara objektif, ia menegaskan bahwa Appi memiliki modal lengkap, baik dari dukungan daerah maupun hubungan dengan elit pusat.
” Ada satu hal lagi yang menurut saya menarik, Appi masih muda dan punya energi besar. Golkar membutuhkan darah segar untuk berkompetisi ke depan,” bebernya.
“Dengan modal pengalaman, dukungan struktural, dan kedekatan dengan elit partai, peluang Appi sangat terbuka,” tambah Adi, menjelaskan.
Terkait figur-figur lain yang juga disebut berpotensi maju seperti Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Andi Ina Kartika, dan Adnan Purichta Ichsan, Adi menilai semuanya tetap bergantung pada keputusan DPP Golkar.
Ia menyebutkan, para figur yang muncul sebagai kandidat Golkar Sulsel saat ini bukanlah sosok baru dalam dinamika politik. Namun secara kualitas, Appi termasuk dalam jajaran figur terbaik.
“Kan ada beberapa nama yang mencuat di publik. Mereka semua tokoh populer, kompeten, punya pengalaman organisasi untuk menghidupkan partai. Termasuk Appi, yang memiliki pengalaman dan basis kuat,” tutup Adi.(*)







