Makassar, Cinta yang Diwujudkan Menjadi Warisan

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 1 September 2026 - 08:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mashud Azikin
(Pendiri Komunitas Manggala Tanpa Sekat)

Ada orang yang mencintai kotanya dengan mengungkapkannya melalui kata-kata.

Ada pula yang mencintai kotanya dengan membangunnya.

Yang pertama relatif mudah.

Yang kedua membutuhkan keberanian.

Sebab, mencintai sebuah kota bukan sekadar memasang slogan di baliho, mengenakan atribut daerah, atau menyampaikan kalimat manis di atas panggung. Pada akhirnya, kecintaan terhadap kota diuji melalui keputusan: apa yang kita kerjakan ketika diberi kesempatan untuk memimpinnya?

Di situlah seorang pemimpin mulai berhadapan dengan sejarah.

Dan di situlah Munafri Arifuddin sedang menempatkan sebuah pertaruhan.

Bukan sekadar tentang sebuah stadion.

Melainkan tentang warisan.

Makassar adalah kota dengan ingatan yang panjang.

Ia menyimpan sejarah di jalan-jalannya, pelabuhannya, pasar-pasarnya, lorong-lorong permukiman, pantainya, dan tentu saja, sepak bolanya.

Bagi masyarakat Makassar, PSM bukan sekadar sebelas pemain yang berlari mengejar bola.

PSM adalah bagian dari cerita keluarga.

Seorang ayah membawa anaknya ke stadion.

Seorang kakek bercerita kepada cucunya tentang pertandingan yang pernah disaksikannya puluhan tahun lalu.

Seorang anak muda mengenakan jersey merah dengan kebanggaan yang sulit dijelaskan kepada mereka yang tidak pernah merasakannya.

Begitulah identitas terbentuk.

Ia tidak selalu lahir dari dokumen resmi.

Kadang, ia lahir dari suara tribun.

Dari pelukan setelah gol.

Dari tangis setelah kekalahan.

Dari teriakan ribuan manusia yang, secara tiba-tiba, merasa menjadi satu.

Karena itu, ketika Mattoanging hilang, yang hilang bukan sekadar sebuah bangunan.

Makassar kehilangan salah satu rumah emosionalnya.

Stadion Untia kemudian hadir sebagai sebuah harapan.

Dan harapan publik bukanlah sesuatu yang sederhana.

Ia tidak dapat dicetak dalam lembar anggaran.

Tidak dapat dihitung hanya dalam meter persegi.

Tidak dapat dimasukkan begitu saja ke dalam tabel indikator kinerja.

Harapan hidup dalam benak manusia.

Ia tumbuh dari percakapan.

Dari janji.

Dari keyakinan bahwa pemerintah masih bersedia mendengar.

Karena itu, ketika sebuah janji pembangunan mulai diwujudkan, ada sesuatu yang patut dihargai.

Bukan semata-mata karena proyeknya.

Melainkan karena kepercayaan publik memperoleh jawabannya.

Dalam konteks ini, Munafri Arifuddin tidak sekadar sedang membangun stadion.

Ia sedang membangun kembali hubungan antara janji dan kenyataan.

Hubungan tersebut sangat penting dalam politik.

Sebab, demokrasi pada dasarnya bertumpu pada kepercayaan.

Kita terlalu sering menyaksikan politik yang piawai memproduksi janji, tetapi gagap menghadirkan hasil.

Janji lahir menjelang pemilihan.

Baliho berdiri.

Spanduk terbentang.

Pidato bergema.

Setelah itu, waktu berjalan.

Sebagian janji berubah menjadi program.

Sebagian menjadi rapat.

Sebagian menjadi dokumen.

Sebagian lainnya menjadi kalimat klasik:

“Masih dalam proses.”

Karena itu, ketika sebuah janji akhirnya diwujudkan, masyarakat berhak mengatakan:

Ini patut diapresiasi.

Kita tidak perlu khawatir bahwa apresiasi akan menghilangkan sikap kritis.

Kritik tetap diperlukan.

Namun, kritik tanpa kemampuan untuk mengakui keberhasilan hanya akan melahirkan sinisme.

Dan sinisme merupakan penyakit politik yang sama berbahayanya dengan kultus kekuasaan.

Kita tidak membutuhkan keduanya.

Kita membutuhkan pemerintahan yang dapat dikritik ketika keliru dan diapresiasi ketika berhasil.

Ada hal lain yang membuat Stadion Untia penting.

Sebuah stadion adalah ruang perjumpaan.

Di sana, sekat sosial menjadi lebih tipis.

Orang kaya dan masyarakat biasa duduk berdekatan.

Pejabat dan rakyat dapat berada di tribun yang sama.

Mahasiswa, pedagang, pekerja, pengusaha, nelayan, dan anak-anak muda memiliki alasan yang sama untuk berteriak.

Gol!

Hanya satu kata.

Namun, selama beberapa detik, kata itu mampu menghapus begitu banyak perbedaan.

Inilah kekuatan olahraga yang sering kali tidak terbaca dalam bahasa birokrasi.

Olahraga bukan hanya persoalan fisik.

Ia juga menyangkut jiwa.

Olahraga menyediakan ruang bagi manusia untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Di tengah kota yang semakin padat, cepat, dan individualistis, ruang semacam itu menjadi semakin penting.

Sebab, manusia membutuhkan tempat untuk bertemu.

Bukan hanya tempat untuk bertransaksi.

Karena itu, kecintaan seorang pemimpin terhadap kota seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah proyek yang dibangun.

Melainkan dari jenis kehidupan yang ingin diciptakannya.

Apakah kota hanya menjadi tempat orang bekerja dan tidur?

Ataukah kota juga menjadi tempat warganya merasa memiliki?

Apakah pembangunan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi?

Ataukah pembangunan juga menyediakan ruang bagi kebudayaan, olahraga, komunitas, anak muda, dan kehidupan sosial?

Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang membuat sebuah stadion lebih penting daripada sekadar bangunan.

Ia dapat menjadi simbol bahwa kota masih menyediakan ruang bagi warganya untuk bermimpi.

Namun, warisan tidak lahir dari seremoni.

Warisan lahir dari keberlanjutan.

Karena itu, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah stadion berdiri.

Stadion Untia harus menjadi rumah yang hidup.

Rumah bagi PSM.

Rumah bagi pembinaan atlet muda.

Rumah bagi komunitas.

Rumah bagi UMKM.

Rumah bagi kegiatan seni dan budaya.

Rumah bagi ekonomi kreatif.

Dan, tentu saja, rumah yang dikelola dengan baik, transparan, serta ramah lingkungan.

Jangan sampai kita membangun stadion megah, tetapi lupa membangun ekosistem di sekitarnya.

Jangan sampai stadion hanya ramai ketika pertandingan berlangsung dan sepi ketika lampu pertandingan dipadamkan.

Sebab, sebuah warisan tidak dinilai dari kemegahannya ketika diresmikan.

Warisan dinilai dari manfaatnya ketika generasi berganti.

Ada satu ukuran sederhana untuk menguji warisan seorang pemimpin.

Bayangkan dua puluh tahun setelah ia tidak lagi menjabat sebagai wali kota.

Namanya mungkin sudah tidak lagi tercetak di baliho.

Wajahnya telah digantikan oleh wajah politikus lain.

Programnya telah menjadi bagian dari sejarah pemerintahan kota.

Namun, Stadion Untia masih berdiri.

Anak-anak muda masih bermain.

PSM masih bertanding.

UMKM masih berkembang.

Orang tua masih membawa anaknya ke stadion.

Dan seorang ayah masih dapat berkata kepada anaknya:

“Dulu, ada seorang wali kota yang berjanji membangun tempat ini.”

Jika anak itu kemudian menjawab:

“Untung dia menepatinya.”

Maka itulah warisan.

Bukan patung.

Bukan nama jalan.

Bukan prasasti.

Melainkan manfaat yang terus hidup ketika orang yang membangunnya sudah tidak lagi berkuasa.

Munafri Arifuddin tentu bukan manusia tanpa kekurangan.

Tidak ada pemimpin yang demikian.

Setiap kebijakan tetap layak diuji.

Setiap anggaran tetap harus diawasi.

Setiap pembangunan tetap harus dikritisi.

Namun, mengawasi bukan berarti menutup mata terhadap keberhasilan.

Demokrasi yang sehat membutuhkan dua keberanian sekaligus:

keberanian mengkritik ketika pemerintah keliru dan keberanian mengakui ketika pemerintah berhasil.

Maka, ketika sebuah janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat mulai menemukan bentuknya, tidak ada salahnya kita memberikan apresiasi.

Bukan karena kita sedang memuji seseorang.

Melainkan karena kita sedang menghargai sebuah prinsip yang semakin langka:

bahwa kata-kata seorang pemimpin seharusnya memiliki hubungan dengan tindakannya.

Pada akhirnya, kota bukan milik wali kota.

Bukan milik partai politik.

Bukan milik pengusaha.

Bukan milik birokrat.

Kota adalah milik mereka yang hidup, bekerja, bermimpi, dan menua di dalamnya.

Seorang wali kota hanya memperoleh kesempatan untuk merawatnya selama beberapa tahun.

Maka, kekuasaan sesungguhnya bukanlah kesempatan untuk memiliki kota.

Kekuasaan adalah kesempatan untuk meninggalkan sesuatu yang baik bagi kota.

Di situlah ukuran cinta menjadi lebih nyata.

Sebab, orang yang mencintai Makassar tidak akan bertanya:

“Apa yang bisa saya ambil dari kota ini?”

Ia akan bertanya:

“Apa yang bisa saya tinggalkan untuk kota ini?”

Mungkin Stadion Untia adalah salah satu jawaban Munafri Arifuddin atas pertanyaan tersebut.

Sebuah jawaban yang kelak tidak lagi membutuhkan pidato.

Sebab, beton akan berbicara.

Rumput akan berbicara.

Tribun akan berbicara.

Dan terutama, manusia-manusia yang menggunakannya akan berbicara.

Kelak, sejarah politik Makassar akan terus berganti.

Wali kota datang dan pergi.

Partai menang dan kalah.

Koalisi terbentuk dan bubar.

Janji-janji baru akan bermunculan.

Namun, kota memiliki ingatan yang lebih panjang daripada politik.

Ia mengingat siapa yang membangun.

Ia mengingat siapa yang merawat.

Dan ia juga mengingat siapa yang hanya pandai berjanji.

Karena itu, memenuhi janji politik bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan pemerintahan.

Ia merupakan cara seorang pemimpin meminta izin kepada sejarah untuk dikenang dengan baik.

Apabila Stadion Untia kelak menjadi rumah bagi generasi baru Makassar, mungkin orang tidak lagi bertanya siapa yang paling banyak berbicara tentang kecintaan kepada kota.

Mereka cukup melihat sebuah stadion yang tetap menyala pada malam pertandingan.

Melihat ribuan orang berdiri.

Melihat anak-anak muda bermimpi menjadi pemain sepak bola.

Mendengar satu kota berteriak bersama:

Ewako!

Pada saat itu, politik telah selesai.

Yang tersisa adalah manfaat.

Dan di situlah kecintaan kepada sebuah kota menemukan bentuknya yang paling jujur:

bukan pada apa yang dikatakan seorang pemimpin ketika berkuasa, melainkan pada apa yang masih dirasakan warganya setelah kekuasaan itu berlalu.

Berita Terkait

Bom Penghancur Partai: Konflik Parsial dan Fragmentatif, Tuah Appi di Jantung Kekuasaan
Jangan Remehkan Appi
Menutup Open Dumping, Membuka Jalan Baru Keadilan Ekologis Makassar
Merawat Rahim Nusantara: Menagih Kedaulatan Ekologis di Usia 81 Tahun Kemerdekaan
Menakar ulang ketahanan pembangunan Indonesia: Dari akselerasi kebijakan menuju transformasi struktural
Meramalkan Masa Depan Indonesia dari Cara Kita Memilah Sampah
Berani Memulai, Beruntung Kemudian
Dari Tamangapa Makassar Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Indonesia

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 08:15 WIB

Makassar, Cinta yang Diwujudkan Menjadi Warisan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 08:41 WIB

Bom Penghancur Partai: Konflik Parsial dan Fragmentatif, Tuah Appi di Jantung Kekuasaan

Jumat, 28 Agustus 2026 - 08:52 WIB

Jangan Remehkan Appi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 11:31 WIB

Menutup Open Dumping, Membuka Jalan Baru Keadilan Ekologis Makassar

Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:31 WIB

Merawat Rahim Nusantara: Menagih Kedaulatan Ekologis di Usia 81 Tahun Kemerdekaan

Berita Terbaru

Info Makassar

Wali Kota Munafri Ingin Pesta Rakyat Libatkan Warga dan UMKM Lokal

Selasa, 1 Sep 2026 - 08:22 WIB

Opini

Makassar, Cinta yang Diwujudkan Menjadi Warisan

Selasa, 1 Sep 2026 - 08:15 WIB